AS Borong Remdesivir untuk Obati Pasien COVID-19, Klaim Beli Lebih dari 90 Persen Stok
AP
Health
Pandemi Virus Corona

Remdesivir sendiri diperkirakan mendapat permintaan tinggi karena menjadi satu-satunya obat yang sejauh ini terbukti menghambat COVID-19, selain dexamethasone yang dianjurkan oleh WHO.

WowKeren - Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan bahwa mereka telah memiliki perjanjian dengan perusahaan Gilead yang berkedudukan di California untuk menyiapkan sebagian besar produksi obat remdesivir untuk pengobatan COVID-19 di AS. Bahkan AS mengklaim telah membeli lebih dari 90 persen stok obat tersebut.

"Sedapat mungkin, kami ingin memastikan bahwa setiap pasien Amerika yang membutuhkan remdesivir bisa mendapatkannya," kata Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS, Alex Azar.


Departemen Kesehatan AS mengatakan mereka telah membeli lebih 90 persen remdesivir yang akan diproduksi Gilead pada bulan Juli ini, dan sudah mengamankan 500 ribu unit remdesivir sampai September mendatang.

Dengan bantuan jutaan dolar dana dari pemerintah AS. Gilead mengatakan pasokan remdesivir akan meningkat pada akhir September untuk memenuhi permintaan global.

Remdesivir sendiri diperkirakan mendapat permintaan tinggi karena menjadi satu-satunya pengobatan yang sejauh ini terbukti menghambat COVID-19, selain dexamethasone yang dianjurkan oleh WHO. Setelah terbukti mampu mempersingkat waktu pemulihan dalam uji klinis, remdesivir mendapatkan otorisasi penggunaan darurat di Amerika Serikat dan persetujuan penuh di Jepang.

Remdesivir dipasarkan seharga USD 2.340 atau setara dengan Rp33 juta per pasien untuk negara-negara kaya. Namun sejauh ini, Gilead setuju untuk mengirimkan hampir semua pasokan obatnya ke Amerika Serikat selama tiga bulan ke depan.

Harga obat itu sedikit di bawah kisaran USD 2.520-2.800 yang disarankan oleh kelompok riset penetapan harga obat AS Institute for Clinical and Economic Review (ICER) pekan lalu. Hal itu terjadi setelah para peneliti Inggris menemukan dexamethasone steroid yang murah dan secara signifikan menurunkan angka kematian di antara pasien COVID-19 parah.

Sebagai informasi tambahan, remdesivir sendiri diyakini paling efektif dalam mengobati pasien lebih awal daripada dexamethasone. Namun, remdesivir dalam formulasinya saat ini, hanya digunakan pada pasien yang kondisinya tak terlalu parah. Sementara dexamethasone lebih dianjurkan pada pasien yang kondisinya telah akut.

Remdesivir yang lazim digunakan untuk Ebola, dinyatakan mampu mempersingkat waktu penyembuhan hingga sepertiganya. Kemudian perbedaan dalam rata-rata kematian secara statistik tidak signifikan, berdasarkan percobaan yang dilakukan di AS.

Obat yang dimasukkan melalui injeksi (suntikan) itu dilaporkan sudah tersedia untuk sejumlah pasien yang masuk dalam uji klinis di seluruh dunia. Sementara itu, cara kerja remdesivir adalah masuk ke dalam genom virus yang diincar, dan kemudian memutus proses replikasi dirinya.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts