Ilmuwan Peringatkan Gelombang Kedua COVID-19 Akan Muncul di Musim Dingin dan Diprediksi Lebih Parah
Health
Pandemi Virus Corona

Para ilmuwan mengatakan musim dingin bisa memicu lebih banyak korban karena orang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan. Hal tersebut membuat virus menyebar lebih mudah.

WowKeren - Sebanyak 37 peneliti dari Akademi Kedokteran Inggris memperingatkan soal risiko gelombang kedua pandemi COVID-19 pada musim dingin. Kondisi tersebut dapat membahayakan ratusan ribu nyawa jika krisis musim dingin dan COVID-19 terjadi bersamaan.

Petugas medis diperkirakan kesulitan menangani lonjakan pasien COVID-19 karena di waktu yang sama ada kasus flu musim dingin. "Perhitungan ini mengindikasikan angka kematian bisa lebih tinggi pada gelombang kedua di musim dingin, tapi resiko ini bisa dikurangi jika mengambil langkah secepatnya," ujar tim peneliti.

Di Inggris sendiri, jumlah kematian akibat gelombang dua COVID-19 di musim dingin diprediksi bisa mencapai 120 ribu pasien selama september-Juni 2021. Alhasil, diperlukan langkah antisipasi guna mencegah ancaman tersebut.

Pemerintah Inggris disarankan menyiapkan skema bertahan di musim dingin. Caranya dengan peningkatan tes COVID-19 dan sistem pelacakan. Solusi lainnya ialah menyiapkan skema vaksinasi flu dan sistem pemantauan penyakit secara nasional.

"Dengan rendahnya kasus COVID-19 saat ini, maka inilah peluang penting menyiapkan diri menghadapi skenario terburuk di musim dingin," ujar Stephen Holgate, kepala peneliti yang juga Professor dari University Hospital Southampton.


Stephen Holgate yang memimpin studi ini mengatakan angka kematian 120 ribu jiwa bukan prediksi, tetapi kemungkinan yang dilihat berdasarkan permodelan menggunakan parameter angka perkiraan orang yang terinfeksi (R).

Prediksi terbaru ini didasarkan pada asumsi bahwa tingkat R menjadi 1,7 dari September mendatang. Para ilmuwan mencontohkan peningkatan laju R 1,5 yang akan menyebabkan 74.800 kematian. Data terbaru pemerintah mencatat saat ini tingkat R di Inggris antara 0,7 sampai 0,9.

"Permodelan menunjukkan bahwa kematian bisa lebih tinggi dengan gelombang kedua COVID-19 pada musim dingin ini, tetapi risiko terjadinya masih bisa dikurangi jika kita segera mengambil tindakan," ujar Holgate.

Selain itu, ilmuwan dari Imperial College London mengatakan musim dingin bisa memicu lebih banyak korban karena orang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan. Hal tersebut membuat virus menyebar lebih mudah.

Sebagai informasi tambahan, penelitian ini sendiri dilakukan selama enam pekan mencakup estimasi jumlah kematian jika penderita COVID-19 naik lagi secara drastis. Skenario ini belum menghitung jika dilakukan lockdown lagi dan penggunaan dexamethasone yang disebut menyembuhkan sepertiga pasien COVID-19 dalam kondisi amat parah.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts