Banyak Perkiraan Meleset, Jokowi Diminta Tak 'Asal' Prediksi Puncak Pandemi COVID-19
Instagram/kemensetneg.ri
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PAN Saleh Daulay menilai prediksi puncak corona harus diukur berdasarkan laporan ahli epidemi, bukan hanya pada hal-hal yang bersifat sosiologis

WowKeren - Presiden Joko Widodo alias Jokowi memprediksi jika puncak pandemi COVID-19 akan terjadi pada Agustus hingga September mendatang. Perkiraan ini didasarkan pada jumlah kumulatif kasus positif COVID-19 yang saat ini terus melonjak.

"Kalau melihat angka-angka memang perkiraan puncaknya Agustus-September," kata Jokowi, Senin (13/7). "Perkiraan terakhir yang saya terima."


Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PAN Saleh Daulay mengkritik perkiraan tersebut. Menurutnya, prediksi puncak corona harus diukur berdasarkan laporan ahli epidemi, tidak bisa jika hanya mengacu pada hal-hal yang bersifat sosiologis.

"Mesti diukur berdasarkan laporan epidemiolog, mengikuti perkembangan COVID-19 di Indonesia, tidak bisa prediksi itu hanya dilihat dari aspek katakanlah yang bersifat sosiologis," kata Saleh dilansir CNN Indonesia, Rabu (15/7). "Epidemiologisnya juga menjadi hal sangat penting."

Jika prediksi dilakukan tanpa berpijak pada kajian epidemiologis maka akan rawan meleset. Seperti yang telah terjadi sebelum-sebelumnya, dimana tak satu pun dari prediksi tersebut yang terealisasi.

"Perkiraan seperti ini sudah ada yang meleset," tegas Saleh. "Dulu ada BIN katanya Mei, bahkan lembaga survei Juni katanya paling lama, kenyataannya meleset lagi."

Apalagi menurutnya, sederet langkah yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam menghadapi pandemi COVID-19 belum cukup. Ia menilai belum ada tanda-tanda perubahan khususnya terkait pelayanan untuk masyarakat.

"Saya lihat apa yang dilakukan pemerintah masih belum menunjukkan tanda-tanda adanya perubahan," kata dia. "Dari pelayanan kepada masyarakat dan penanganan COVID-19."

Terkait prediksi ini, Ahli Epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani mengatakan jika hal itu mungkin saja terjadi dan mungkin saja tidak. Sebab, prediksi tersebut tak lepas dari bagaimana intervensi pemerintah dalam percepatan penanganan pandemi ini.

Seperti diketahui, penambahan kasus COVID-19 di Indonesia 'konsisten' sebanyak lebih dari 1.000 per hari. Bahkan hari ini, kasus positif corona di Indonesia mencapai 80 ribu orang. Sebanyak 39.050 orang dinyatakan sembuh dan 3.797 orang meninggal dunia.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts