Banyak pakar lingkungan menyebut musim panas 2020 ini terlalu kejam bagi manusia. Tak hanya yang beraktivitas langsung di bawah terik matahari, yang beraktivitas di dalam ruangan pun ikut terancam.
- Elvariza Opita
- Jumat, 17 Juli 2020 - 14:53 WIB
WowKeren - Musim panas untuk bagian belahan bumi utara sudah di depan mata. Namun untuk tahun ini tampaknya musim panas akan sedikit mengancam karena diklaim terlalu panas, terlalu kejam, untuk dirasakan manusia.
Secara khusus para pakar mengkhawatirkan mereka yang harus bekerja secara langsung di bawah terik sinar matahari seperti pekerja bangunan atau petani. Namun tak hanya itu, serangan panas ini rupanya juga bisa dirasakan oleh mereka yang bekerja di dalam ruangan seperti pabrik dan rumah sakit.
Termasuk yang ikut merasakannya adalah para tenaga medis yang berjibaku merawat pasien COVID-19. Hal ini tak lepas dari bahan pelindung mereka, yakni alat pelindung diri (APD) yang materialnya dari plastik, yang bisa memperburuk situasi.
"Rasanya seperti diserang," ujar Dr Jimmy Lee, seorang pakar medis dari Singapura. "Rasanya sangat tidak nyaman harus bekerja dengan pakaian ini selama satu shift atau delapan jam, sangat memengaruhi mentalmu."
Apalagi saat ini kebanyakan rumah sakit tak lagi menyalakan pendingin ruangan alias AC. Sebab dikhawatirkan virus akan semakin "melayang-layang" di udara, yang kemudian membuat suhu udara makin panas dan kian tidak nyaman bagi para tenaga medis.
Bekerja saat suhu panas menyerang ternyata menyimpan banyak hal buruk. Dikutip dari BBC News, bisa saja organ tubuh sampai berhenti bekerja karena suhu yang kelewat panas. Biasanya hal ini ditunjukkan lewat gejala seperti kelelahan, lemas, pusing, dan mual, sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
Situasi pelik ini bisa terjadi akibat tubuh tak bisa mendinginkan suhu internalnya, biasanya dengan mengeluarkan keringat. Namun cuaca yang kelewat lembab membuat produksi keringat terhenti karena terlalu banyak suhu panas yang terperangkap, yang bisa saja dialami oleh para tenaga medis yang menggunakan berlapis-lapis APD.
Dr Rebecca Lucas dari Universitas Birmingham menyebut situasi ini bisa berbahya, bahkan berujung pada disfungsi usus serta ginjal. "Over heat bisa berakibat fatal di seluruh bagian tubuhmu," jelas Lucas, dikutip pada Jumat (17/7).
Demi mencegah hal ini terjadi, seseorang disarankan untuk banyak mengonsumsi air karena sifatnya yang bisa meredam panas di dalam tubuh. Selain itu bisa juga dengan beristirahat sejenak agar tubuh tidak terus-menerus memproduksi energi dan berujung pada pembentukan kalor atau panas tubuh.
(wk/elva)