Laudya Cynthia Bella dikabarkan masih hancur dengan kegagalan pernikahan dengan Engku Emran. Namun Erra yang dulu mantan istri pertama Emran memberikan masukan soal menjadi sosok wanita akhir zaman yang soleha dan tegar.
- Ria Susilo Wardhani
- Senin, 20 Juli 2020 - 08:42 WIB
WowKeren - Erra Fazira sudah pernah merasakan pahitnya perceraian. Bukan cuma tumbuh besar dari orangtua single parent, Erra pun telah menjanda dua kali.
Meski begitu, Erra ternyata mampu bangkit dari keterpurukan. Ia tetap menebar senyum meski saat ini masih sendiri.
Lewat Instagram, Erra berbagi postingan positif di Instagram. Salah satunya membahas tentang wanita akhir zaman.
"Aku wanita akhir zaman, aku ingin seperti mereka. Aku bukanlah wanita sesabar siti sarah. Aku bukanlah wanita setagah siti hajar, Aku bukanlah wanita setegar ummu sulaim. Aku bukanlah wanita seteguh masyithah, aku bukanlah wanita sesuci siti maryam, aku bukanlah wanita setakwa zainab, aku bukanlah wanita secantik zulaikha, aku hanyalah wanita akhir zaman yang sering lalai, namun berusaha taat, aku hanyalah wanita akhir zaman yang akhlaknya belum baik, namun bercita-cita menjadi wanita saleha, aku hanyalah wanita akhir zaman yang sering melakukan dosa namun berkeinginan menjadi seperti mereka," demikian video dakwah unggahan Erra.
Erra juga mengunggah video wawancara soal hal pribadi. "Pernah tidak menghargai laki-laki?" tanya wartawan. "Tak pernah," jawab Erra.
Sebelumnya, Erra mengaku tak pernah terlalu detil menasihati istri kedua Engku Emran, Laudya Cynthia Bella. Meski begitu, ia pernah berbagi kiat-kiat untuk bangkit.
"Saya pecundang, pernah mengalami kegagalan dalam bertunangan, gagal dalam perkawinan, tapi semua itu saya jadikan pelajaran, pengalaman hidup yang sangat berharga buat saya," kata Erra. "Saya kolaps, rasa malu ada, sebab satu Malaysia tahu. Menangis, tak mau keluar rumah. Tapi saya tidak boleh pecundang, kalau saya pecundang, apa jadinya dengan pekerjaan saya? Tanggung jawab saya pada keluarga? Jadi saya tidak ada masa (pecundang)"
Erra menilai kalau setiap orang berhak menangisi masalah hidup. Namun ia tak menyarankan hal itu berlarut-larut.
"Saya nangis dua tiga hari setelah itu tutup buku," kata Erra. "Setelah itu what's next?"
(wk/riaw)