Wilayah Sudah Lockdown, COVID-19 di Xinjiang Justru Meluas ke Kota Terdekat
Dunia

Munculnya kasus baru COVID-19 membuat ibu kota Xinjiang, Urumqi, mengalami lockdown. Baru-baru ini, ditemukan kasus corona di kota tetangga, Kashgar yang berasal dari Xinjiang.

WowKeren - Pemerintah Tiongkok telah melakukan lockdown pada Ibu Kota Urumqi, Provinsi Daerah Otonomi Xinjiang pekan lalu. Hal ini disebabkan munculnya kasus baru virus corona (COVID-19).

Pada Sabtu (18/7) lalu, pemerintah setempat pun menggelar tes massal demi menghindari munculnya klaster baru. Tes massal ini dilakukan setelah pihak berwenang membatasi sebagian besar penerbangan ke ibu kota Xinjiang, Urumqi serta menutup layanan kereta bawah tanah lokal dan angkutan umum.

Kekinian, diketahui jika penyebaran virus corona dari Urumqi telah meluas ke kota tetangga, Kashgar. Hal ini diketahui usai 1 dari 17 kasus dikonfirmasi berasal dari Urumqi, Xianjiang.

Sementara sekitar 16 kasus berasal dari Urumqi. Sejak awal Juni sedikitnya 47 orang di Xianjiang telah terinfeksi virus corona.


Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok pada Senin (20/7) melaporkan lima diantaranya merupakan kasus impor. "Seluruh kota telah memasuki 'masa perang', dan akan menangguhkan semua jenis kegiatan kelompok," kata seorang pejabat pada pertemuan itu, menurut laporan media pemerintah.

Munculnya kasus-kasus baru itu menggambarkan kesulitan yang dihadapi pemerintah Tiongkok dalam memberantas penularan corona yang mulai muncul di pusat kota Wuhan akhir tahun lalu, menyusul di Beijing pada Juni lalu.

Perlu diketahui, Xinjiang merupakan wilayah pegunungan dan gurun yang luas dengan penduduk yang sedikit dan memiliki dampak tidak signifikan saat pandemi corona menimpa Wuhan. Xinjiang adalah salah satu daerah pertama yang mengizinkan siswa kembali ke sekolah pada akhir Maret setelah pihak berwenang menyatakan gelombang wabah COVID-19 berakhir.

Etnis Uighur dan Muslim Turki lainnya merupakan setengah dari populasi wilayah terpencil dan terkurung daratan tersebut. Banyak dari mereka mengeluhkan penindasan politik dan agama selama puluhan tahun oleh Partai Komunis Tiongkok yang berkuasa, yang kemudian dibantah pemerintah.

Pemerintah Tiongkok sendiri telah menangkan 5.370 pelaku kejahatan terkait pandemi COVID-19 sejak Januari hingga Juni. Lebih dari 40 persen kejahatan merupakan penipuan, 15 persen berupa produksi dan penjualan barang palsu, mengganggu stabilitas umum, dan menjual spesies yang terancam punah.

(wk/nidy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait