Israel ikut mengkritik keras keputusan Turki yang mengubah Hagia Sophia menjadi masjid. Padahal Israel sendiri bertindak intoleran lantaran mengubah fungsi Masjid Al-Ahmar di Palestina menjadi bar.
- Luthfiatun Nisa
- Senin, 27 Juli 2020 - 10:35 WIB
WowKeren - Keputusan Pemerintah Turki dan Presiden Recep Tayyip Erdogan untuk mengembalikan Hagia Sophia menjadi masjid memang masih terus menuai pro dan kontra. Keputusan tersebut bahkan dianggap intoleran dan melukai umat Kristen dunia oleh negara-negara Barat. Padahal, sebelumnya negara-negara tersebut diam saja saat Israel mengubah masjid di Palestina menjadi bar.
Aksi Israel pada tahun lalu itu kembali dibahas pasca tuduhan intoleransi yang mereka tujukan pada Turki akibat perubahan status Hagia Sophia menjadi masjid. Pasalnya, Israel sendiri bertindak arogan dan intoleran lantaran mengubah fungsi Masjid Al-Ahmar menjadi bar.
Pada April 2019 lalu, Israel yang menduduki wilayah Palestina mengubah status fungsi Masjid Al-Ahmar menjadi bar. Padahal Masjid itu masuk kategori masjid bersejarah bagi warga Palestina lantaran dibangun di abad ke-13.
Serupa dengan Hagia Sophia, masjid yang berada di distrik Safed itu juga punya model arsitektur langka nan unik. Distrik Safed diketahui sempat menjadi rumah untuk 12 ribu warga Palestina hingga dipaksa keluar dari rumah mereka pada 1948 oleh Zionis Israel.
Berdasarkan kajian sejarawan sekaligus warga lokal Safed, Mustafa Abbas, Masjid Al-Ahmar dianggap sebagai salah satu masjid bersejarah di Timur Tengah. Masjid Al-Ahmar menjadi saksi bisu sejarah panjang di wilayah tersebut sejak dibangun oleh Sultan Mameluk Al Daher Baibars pada 1223-1277. Masjid Al-Ahmar disebut mengalami beberapa kali perubahan fungsi sejak pendudukan Israel di akhir perang dunia II.
Abbas menyebut, Masjid Al-Ahmar lagi diizinkan untuk lokasi peribadahan bagi umat Muslim. Pasukan keamanan Israel bahkan tak akan segan menyerang Muslim yang nekat coba-coba beribadah disana.
Sebelum menjadi tempat kegiatan pernikahan dan bar, Israel pernah menjadikan Masjid Al-Ahmar sebagai sekolah Yahudi. Lalu pada pada 2006, bangunan masjid itu difungsikan sebagai kantor pusat kampanye Partai Kadima yang dibentuk Partai Likud (partai Perdana Menteri Benjamin Netanyahu). Selanjutnya Masjid Al-Ahmar digunakan sebagai gudang pakaian.
Lalu pada April 2019, Masjid Al-Ahmar diubah menjadi bar dan aula pesta pernikahan oleh perusahaan Israel yang terhubung dengan kotamadya Safed. Namanya pun kini menjadi Khan Al-Ahmar. "Masjid Al-Ahmar mendapat namanya dari batu bata merah. Hari ini, Masjid digunakan untuk berbagi fungsi, kecuali sebagai tempat ibadah Muslim," kata Abbas, sebagaimana dilansir dari Republika.
Protes keras meluncur deras dari warga dan otoritas Palestina dengan perubahan status Masjid Al-Ahmar menjadi bar. Salah satunya datang dari Sekretaris Badan Abadi Islam Palestina, Khair Tabari. Ia tak menyangka Israel tega mengubah Masjid Al-Ahmar menjadi bar.
Tabari bahkan mengajukan permintaan ke pengadilan Nazareth supaya Masjid Al-Ahmar dikembalikan ke Badan Abadi Islam. Sayangnya, pengadilan belum mengambil keputusan apapun sampai hari ini. "Saya kaget saat menyaksikan tindakan vandalisme di dalam masjid," ungkap Tabari.
"Dapat terlihat bahwa ayat-ayat Alquran di dalam Masjid diganti dengan Ten Commandments (10 Perintah) dalam bahasa Ibrani," lanjutnya.
Simbol intoleransi Israel tak hanya dilihat dari pengubahan fungsi Masjid Al-Ahmar. Masjid Yunani yang juga berada di distrik Safed turut diubah fungsinya oleh Israel menjadi pusat galeri seni. Muslim lalu dilarang melaksanakan shalat di Masjid yang telah ada sejak abad ke-13 itu.
(wk/luth)