Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, juga mengatakan bahwa Kamis (30/7) menandai enam bulan sejak WHO menyatakan COVID-19 sebagai darurat kesehatan global.
- Luthfiatun Nisa
- Rabu, 29 Juli 2020 - 09:08 WIB
WowKeren - Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan akan kembali menggelar pertemuan Komite Darurat pada Kamis (30/7) mendatang guna mengevaluasi pandemi COVID-19. Pasalnya, ia mengatakan bahwa kasus global meningkat dua kali lipat selama enam pekan terakhir.
Tedros mengklaim bahwa Kamis (30/7) menandai enam bulan sejak 30 Januari ketika WHO menyatakan COVID-19 sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Saat konferensi pers virtual, Tedros menyebutkan hampir 16 juta kasus di seluruh dunia dilaporkan kepada WHO, dengan lebih dari 640 ribu korban jiwa.
"Ini keenam kalinya darurat kesehatan global diumumkan di bawah Regulasi Kesehatan Internasional, tetapi dengan mudah menjadi yang terparah," tuturnya, dikutip dari Reuters pada Rabu (29/7).
Dalam lanjutan keterangannya, Tedros mengatakan bahwa meski dunia telah berubah, langkah-langkah mendasar yang diperlukan untuk menekan transmisi sekaligus menyelamatkan nyawa belum berubah, yaitu dalam menemukan, mengisolasi, melakukan tes dan merawat kasus, serta melacak dan mengarantina kontak mereka. Ia juga menyebutkan sejumlah negara yang menurutnya mampu mengendalikan wabah dengan baik.
"Negara dan komunitas yang telah mengikuti imbauan ini secara hati-hati dan konsisten telah melakukannya dengan baik, dalam mencegah wabah berskala besar, seperti Kamboja, Selandia Baru, Rwanda, Thailand, Vietnam dan pulau-pulau di Pasifik dan Karibia, ataupun dalam mengendalikan wabah seperti Kanada, Tiongkok, Jerman dan Republik Korea," katanya.
Kepala Program Kedaruratan WHO, Mike Ryan, juga mengatakan hal serupa. Ryan mengatakan yang lebih penting daripada definisi gelombang kedua, puncak baru, dan klaster lokal, adalah kebutuhan bagi negara-negara di seluruh dunia untuk menjaga pembatasan kesehatan yang ketat seperti jarak fisik.
Hingga kini, angka kenaikan terbesar berasal dari Amerika Serikat, Brasil, India, dan Afrika Selatan. Sedangkan jumlah kematian harian masih tetap sama, yakni sekitar 5.000 kematian per hari.
AS sendiri hingga kini memang terus mengalami lonjakan kasus baru maupun kematian yang disebabkan oleh COVID-19. Berdasarkan statistik Worldometers.info per Selasa (28/7), AS masih menjadi negara dengan kasus dan kematian corona tertinggi di dunia. Negeri Paman Sam tercatat memiliki lebih dari 4,4 juta kasus corona dengan 152,306 kematian.
Tren penularan kasus corona di AS terus meningkat meski Negeri Paman Sam telah memasuki era new normal, di mana pemerintah federal dan negara bagian telah mencabut serangkaian kebijakan pembatasan pergerakan.
Sementara itu pandemi virus corona telah menginfeksi lebih dari 16,8 juta jiwa di seluruh dunia. Angka kematian akibat virus ini mencapai lebih dari 662,440 dan pasien sembuh menyentuh angka 10,4 juta jiwa. Saat ini, kasus aktif COVID-19 dilaporkan mencapai 5,775,912 pasien.
(wk/luth)