Menurut Biden dan Partai Demokrat, Isu rasisme jadi perhatian utama kampanye calon presiden di AS setelah insiden kematian George Floyd yang menyebabkan gelombang demonstrasi besar-besaran.
- Luthfiatun Nisa
- Rabu, 29 Juli 2020 - 13:28 WIB
WowKeren - Calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Joe Biden, menjelaskan strateginya menghapus rasisme sistemik dan kesenjangan ekonomi rasialis saat ia berkampanye di kota asalnya, Wilmington, Delaware, pada Selasa (28/7) waktu setempat. Mantan Wakil Presiden era Barack Obama tersebut menjanjikan bahwa rasisme akan dihapuskan jika ia menjabat sebagai Presiden periode mendatang.
Biden bahkan sedang mempertimbangkan empat wanita berkulit hitam untuk mendampinginya menjadi bakal cawapres. Dengan menarik wanita kulit hitam sebagai pendamping dalam pemilihan presiden Amerika Serikat, Biden berharap untuk mengalahkan Presiden saat ini dari Partai Republik, Donald Trump.
Dalam pidato politiknya, Biden juga akan menyampaikan bagian terakhir rencananya memulihkan ekonomi AS yang terdampak pandemi COVID-19. Lewat kampanye itu, Biden juga akan menunjukkan perbedaan antara strategi pemulihan ekonominya dengan kebijakan penanggulangan pandemi yang dijalankan Trump.
Menurut Biden dan Partai Demokrat, Isu rasisme jadi perhatian utama kampanye calon presiden di AS setelah insiden kematian George Floyd, seorang warga kulit hitam, yang mati di tangan polisi kulit putih. Kematian Floyd diikuti dengan aksi unjuk rasa selama beberapa bulan di puluhan kota.
Calon presiden dari Partai Demokrat itu sempat menyampaikan tiga janji kampanye dalam "Build Back Better (Membangun Kembali dengan Lebih Baik)" lewat pidato politik sebelumnya. Ia menyampaikan rencana meningkatkan inovasi dan industri manufaktur, menekan dampak perubahan iklim dengan menanamkan modal triliunan dolar AS pada energi ramah lingkungan, serta meningkatkan kualitas lembaga pengasuhan anak-anak dan orang lanjut usia.
Sejumlah rencana Biden memang dapat diwujudkan lewat peraturan presiden, tetapi beberapa janji politiknya membutuhkan persetujuan Kongres. Dengan demikian, janji itu sulit terwujud jika Partai Republik masih menguasai mayoritas kursi di Senat pada pemilihan umum November 2020.
Menjelang pemilihan presiden pada 3 November mendatang, aksi serang Biden-Trump memang semakin memanas. Sebelumnya Biden menyebut Trump menyalakan api perpecahan lebih dulu.
Trump menuding Biden tak kompeten dengan serangkaian tudingan yang sifatnya spekulasi. Trump menyebut mantan wakil Presiden era Barack Obama itu akan melipatgandakan pajak dan "menggunduli" polisi jika terpilih menjadi Presiden AS periode mendatang.
Sedangkan Biden juga kerap mengatakan alasannya maju dalam pemilihan Presiden karena marah dengan penilaian Trump terhadap peristiwa Charlottesville, Virginia, ketika unjuk rasa supremasi kulit putih bentrok dengan anti-rasisme dan menewaskan aktivis anti-rasisme.
(wk/luth)