Jika memang benar bahwa patung tersebut dibuat menyerupai sang perdana menteri, Jepang mengecam jika kasus ini akan berpengaruh pada hubungan diplomatik kedua negara.
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 29 Juli 2020 - 15:21 WIB
WowKeren - Jepang mengecam keras sebuah patung di Korea Selatan yang memperlihatkan seorang pria yang menyerupai Perdana Menteri Shinzo Abe berlutut dan membungkuk pada seorang gadis yang melambangkan "wanita penghibur" pada masa perang.
Jika memang benar bahwa patung tersebut dibuat menyerupai sang perdana menteri, maka hal itu "tidak dapat diterima dalam hal kesopanan internasional" seperti yang dikemukakan oleh Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga. Ia mengatakan tidak menutup kemungkinan jika kasus ini akan mempengaruhi hubungan antara Jepang dan Korea Selatan ke depannya.
Patung "Penebusan Abadi" (Eternal Atonement) tersebut baru saja dibangun di Korea Botanical Garden di Pyeongchang. Rencananya, akan ada upacara pembukaan pada 10 Agustus, dan akan dibuka untuk umum mulai 25 Agustus.
Juru bicara pihak pengelola taman menepis anggapan yang menyebut jika patung itu adalah perwujudan Shinzo Abe. "Tidak benar jika dikatakan bahwa itu adalah patung Abe. Patung itu dimaksudkan sebagai simbol, bisa Abe, bisa juga orang lain," kata dia dilansir dari Nikkei Asian, Rabu (29/7).
Seorang seniman Korsel menyebut jika patung itu melambangkan sebuah penebusan yang layak diterima oleh wanita penghibur. Dengan patung ini, diharapkan Jepang mau mengakui sejarah dan meminta maaf atas apa yang telah terjadi.
"Patung itu mengekspresikan penebusan yang layak diterima oleh wanita penghibur," kata Wang Kwang-hyun kepada surat kabar Kyunghyang. "Dan meningkatkan semangat rakyat kita sambil berharap untuk Jepang baru yang dengan jujur meminta maaf dan menghadapi sejarah."
Selama beberapa tahun terakhir, kedua negara telah berselisih terkait beberapa hal termasuk wanita penghibur. Pada masa sebelum dan selama Perang Dunia II, banyak perempuan Korea yang dipaksa menjadi penghibur di rumah pelacuran Jepang.
Merujuk pada perjanjian yang diteken antara Abe dan presiden Korsel saat itu Park Geun Hye pada 2015 lalu, Jepang menganggap masalah ini sudah berakhir. Namun rupanya, pemerintah Korsel saat ini yang dipimpin Presiden Moon Jae In menyatakan kesepakatan tahun 2015 itu cacat dan membatalkannya.
(wk/zodi)