AS Resmi Resesi Usai Ekonomi Nyungsep 32 Persen, Harga Emas Masih Stabil?
Dunia
Potensi Resesi Imbas COVID-19

Resesi kembali merenggut korban baru. AS mengalami kontraksi GDP Kuartal II 2020 sampai 32,9 persen, titik terendah yang pernah dialami negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu.

WowKeren - Jurang bernama resesi itu terus menerus memakan korban hingga Kuartal II 2020 ini. Usai Hong Kong, Korea Selatan, Singapura, dan Jerman, kini giliran Amerika Serikat yang terperosok ke dalam jurang tersebut.

Dilansir dari CNBC Indonesia, produk domestik bruto (PDB / GDP) negara adidaya itu mengalami kontraksi sampai 32,9 persen pada Kuartal II 2020. Kontraksi ini merupakan yang terparah yang pernah dialami AS, dengan Kuartal I 2020 mencatatkan minus 5 persen.

Sejatinya resesi AS sudah diprediksi sebelumnya. Banyak analis yang menilai AS tak akan lolos dari jurang resesi mengingat jumlah kasus positif COVID-19 di negara itu terus mengalami kenaikan, ditambah dengan sejumlah dinamika yang terjadi seperti perang dingin dengan beberapa negara hingga demonstrasi anti-rasisme besar-besaran yang sempat terjadi beberapa waktu lalu.

Kondisi ini membuat indeks bursa saham utama AS, Wall Street, langsung terjun bebas ke zona merah. Sebut saja indeks Dow Jones yang turun 1,3 persen, S&P melemah 1 persen, dan Nasdaq merosot 0,7 persen.

Krisis tak berhenti sampai di situ. AS juga melaporkan kenaikan jumlah klaim pengangguran menjadi 1,434 juta, padahal pekan lalu ada 1,422 juta klaim.


Krisis moneter di AS tentu akan berpengaruh terhadap situasi perekonomian di negara lain. Namun harga emas, sebagai salah satu instrumen investasi, tampaknya masih berdiri kokoh.

Melansir data Refinitiv, harga emas dunia kembali menguat sampai level 0,53 persen. Padahal pada Kamis (30/7) kemarin harga emas dunia terus melemah ke level 0,55 persen.

Mengutip harga di situs logammulia.com, memang tak ada perubahan pada harga emas Antam. Harga terakhir yang dicatatkan adalah Rp 1.016.000 per satu gramnya, nyaris kembali memecahkan rekor Selasa (28/7) yang mencapai Rp 1.022.000 per gram.

Di sisi lain, resesi sebenarnya bukan barang baru bagi AS. Bahkan resesi yang dialami saat ini merupakan yang ke-34 kali.

Tak hanya itu, AS juga pernah mengalami krisis yang jauh lebih buruk bertajuk The Great Depression pada tahun 1930-an. Resesi yang berlangsung selama satu dekade itu merupakan mimpi terburuk perekonomian AS, namun ternyata tidak pernah mengalami kontraksi ekonomi seburuk yang dicatatkan saat ini.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts