Sebelum Terjadi Ledakan di Beirut, Ekonomi Lebanon Disebut Sudah Hancur Akibat Tingginya Inflasi
Reuters
Dunia

Tingkat inflasi yang tinggi menyebabkan nilai tukar pound, mata uang Lebanon, semakin lemah. Tingkat inflasi tahunan Lebanon melonjak ke 89,74 persen pada Juni 2020.

WowKeren - Insiden ledakan yang terjadi di Beirut, Lebanon, pada Selasa (4/8) malam waktu setempat kini tengah menjadi sorotan internasional. Pasalnya, ledakan yang menewaskan ratusan orang dan ribuan korban luka tersebut semakin membuat Lebanon terperosok dalam krisis yang semakin buruk dalam satu dekade terakhir, terutama dari segi ekonomi.

Akan tetapi, laporan terbaru menyebut bahwa sebenarnya ekonomi Lebanon sudah hancur sebelum terjadinya ledakan di Beirut. Tingginya tingkat inflasi di Lebanon disebut sebagai pemicu hancurnya ekonomi negara tersebut.

Tingkat inflasi yang tinggi menyebabkan nilai tukar pound, mata uang Lebanon, semakin lemah. Tingkat inflasi tahunan Lebanon melonjak ke 89,74 persen pada Juni 2020. Ini menjadi tingkat tertinggi sejak Desember 2008.

Pada Mei, Inflasi Lebanon sebesar 56,53 persen, yang terjadi karena meningkatnya krisis ekonomi dan mata uangnya yang runtuh di tengah krisis politik. Lebanon masuk ke dalam hiperinflasi yang sulit dibendung. Bahkan mata uang pound Lebanon nilainya sudah terdegradasi hingga 80 persen dari dolar AS.

Dikutip dari Washington Post, saat ini semua serba langka di Lebanon. Listrik dijatah 2-4 jam per rumah tangga per hari. Bandara di Beirut pun telah ditutup karena tak ada ketersediaan listrik dan tak ada lagi lampu lalu lintas yang menyala.

Makanan pokok pun juga langka. Roti hingga susu selain harganya sangat mahal akibat inflasi tinggi juga susah didapatkan. Bahkan disebutkan bahwa gaji pensiun sebesar USD 700 pun kini menurun drastis senilai USD 100.


Sebagai informasi tambahan, harga naik lebih cepat terutama untuk makanan dan minuman hingga 246,62% pada Mei. Transportasi naik 84,69%, pakaian dan alas kaki naik 344,81%, dan restoran-hotel 342,45%.

Harga perabot rumah tangga, peralatan rumah tangga, dan pemeliharaan rutin rumah tangga naik 412,40% . Minuman beralkohol & tembakau naik 254,05%, sementara harga perumahan dan utilitas naik 3,55%.

Pemerintah Lebanon yang didukung Iran telah melakukan pembicaraan dengan Dana Moneter Internasional (IMF), membicarakan kesepakatan dana talangan 10 miliar dolar AS. Namun pembicaraan terhenti dan bantuan IMF urung datang. Tak ada deal antara Beirut dan IMF soal ini.

Di sisi lain, insiden ledakan yang terjadi di salah satu pelabuhan di Beirut ini dilaporkan merenggut lebih dari 100 nyawa dan melukai sekitar 3 ribu orang. Ledakan tersebut begitu kuat hingga dapat memicu gempa lokal dengan magnitudo 3,5.

Menurut Kepala Badan Keamanan Lebanon, Abbas Ibrahim, ledakan itu diduga kuat berasal dari sebuah gudang yang menyimpan bahan amonium nitrat yang berdaya ledak tinggi. Bahan kimia itu disita dari sebuah kapal beberapa tahun lalu.

Seorang pakar bahan peledak, Boaz Hayoun, menduga ledakan itu dipicu oleh kembang api. Dia mengungkapkan dugaan ini berdasarkan analisis rekaman video. "Sebelum ledakan, di tengah titik ledakan, terlihat percikan dan terdengar suara seperti popcorn dan terdengar siulan. Itu mirip kembang api," kata Hayoun.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts