Bukan Marah, Kecerdasan Buatan Malah Deteksi Emosi Ini Saat Jokowi Ngamuk ke Menteri
Nasional
Ancaman Reshuffle Kabinet Jokowi

Pada 18 Juni 2020 lalu Presiden Joko Widodo mengungkapkan amarahnya kepada para menteri, bahkan mengancam akan melakukan reshuffle kabinet, akibat 'gagap' menangani wabah COVID-19.

WowKeren - Akhir Juni 2020 kemarin dunia maya dibuat geger dengan video kemarahan Presiden Joko Widodo kepada para menterinya. Pasalnya Jokowi dikenal sebagai sosok yang jarang menunjukkan emosinya di hadapan publik, namun kala itu sang presiden tak kuasa menahan amarah dan menegur keras para punggawanya.

Baru-baru ini media Narasi membedah emosi video viral tersebut dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI) yang bekerja sama dengan perusahaan teknologi asal Spanyol, Emotion Research Lab. Lewat pembedahan oleh AI milik Emotion Research Lab ini, terungkap bagaimana emosi sebenarnya yang ditunjukkan Jokowi dalam potongan klip video tersebut.

Sebelum masuk ke hasil pembedahannya, patut dipahami dahulu soal emosi manusia yang dibagi dalam 6 kategori dasar, yakni bahagia, sedih, marah, takut, kaget, dan jijik. Nantinya keenam kategori emosi dasar ini bisa dipecah lagi ke dalam 158 sub-emosi oleh mesin Emotion Research Lab.

Dan patut digarisbawahi pula, masih ada bias atau kesalahan dalam pembedahan emosi dengan kecerdasan buatan seperti ini. "Sebenarnya bukan (karena) teknologi gagal membaca detail mimik wajah, tetapi wajah dianggap bukanlah cerminan sinyal emosi akurat," demikian kutipan dari Narasi, yang dibenarkan pula oleh CEO Emotion Research Lab, Maria Pocovi.


Lantas bagaimana hasil bedah emosi Jokowi? Rupanya Emotion Research Lab mendapati bukanlah amarah yang mendominasi isi hati Jokowi kala mengamuk waktu itu.

"Bisa dilihat tidak ada kemarahan di sana. Bisa sekadar teatrikal (pandai menyembunyikan emosi) atau teknologi yang tidak relevan," ujar Pocovi, dilansir pada Kamis (6/8). Pocovi lantas mencontohkan pidato Carles Puigdemont, anggota parlemen Catalonia, yang menurutnya benar-benar menunjukkan kemarahan.

Mesin AI justru membaca kesedihan dan kegelisahan di raut wajah Jokowi. Bila dibedah dalam diagram, tampak emosi bahagia malah mendominasi sampai 19,68 persen, sedangkan kesedihan di kisaran 13,08 persen, dan kemarahan "hanya" 3,04 persen.

Namun bukan berarti Jokowi berbahagia kala mengamuk di depan menteri waktu itu. Bila merujuk pada sub-emosi yang mendominasi, "kebahagiaan" yang timbul malah cenderung menunjukkan kelegaan. Namun di sisi lain, kelegaan itu dibarengi dengan kegelisahan.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts