Kesaksian Soal Seberapa Mengerikannya COVID-19: Bisa Serang Organ Tubuh Berbeda di Tiap Pasien
Health
COVID-19 di Indonesia

Seorang penyintas COVID-19 yang harus kehilangan kedua orangtuanya akibat penyakit ini memberikan kesaksian soal seberapa mengerikannya 'geliat' virus Corona di dalam tubuh pasien.

WowKeren - Sudah lebih dari 130 ribu orang di Indonesia positif terjangkit COVID-19 dan tak jarang yang berkenan membagikan kisahnya kala mengidap penyakit infeksi saluran pernapasan tersebut. Salah satunya seperti yang dialami oleh akun @ta****rl yang hampir seluruh keluarganya positif COVID-19 hingga menyebabkannya harus kehilangan kedua orang tua dalam waktu sebulan.

Ia mengaku sang ayah mulai drop kondisinya pada 2 Juni 2020, diikuti ibunya pada sekitar 4 Juni 2020. Namun kala itu keduanya memilih untuk mengistirahatkan diri di rumah karena keyakinan bahwa hanya kelelahan biasa.

"Makin hari kondisi mereka berdua makin menurun. Bapak mual tapi ngga bisa muntah karena gaada makanan yang masuk. Ibu, gamau makan juga karena katanya mulutnya pait. Aku? Aku selalu banyak makan, karena takut sakit lagi," ujarnya.

Lalu pada 8 Juni 2020, kondisi sang ayah mulai menurun. Namun kala itu dokter spesialis hanya menduga ayahnya terkena maag.

Lama kelamaan kondisi sang ayah menurun, bersamaan dengan dirinya yang juga mulai demam dan mengalami gejala anosmia atau ketidakmampuan mencium aroma sesuatu. Dan kabar dukanya, beberapa hari setelah itu sang ayah meninggal dunia serta harus dimakamkan dengan protokol COVID-19.

Kemudian setelahnya ganti sang ibunda yang mengalami penurunan kondisi kesehatan. Meski hasil rapid test dinyatakan non-reaktif, namun citra rontgen menunjukkan ada gejala klinis pneumonia akut yang dialami sang ibu.

Berjalan beberapa hari, kondisi sang ibu semakin menurun hingga pada 22 Juni 2020 ia diminta persetujuan untuk pemasangan ventilator. Sudah diberi berbagai jenis obat pun kondisi sang ibu tetap tak membaik sampai akhirnya meninggal dunia.


"Siapa sangka, di umur yang masih semuda ini aku harus kehilangan orangtua di waktu yang berdekatan. Mungkin memang takdirnya, dan mungkin mereka memang cinta sehidup semati," katanya, dilansir pada Kamis (13/8).

"Dalam sebulan, aku hadiri dua pemakaman. Yang dimana itu adalah bapak ibuku sendiri," sambungnya. "Kakakku sedang di Korea, menjalani studynya. Aku selalu berpikir tetang bagaimana hancurnya dia saat pulang dan sudah tidak memiliki orang tua."

Statusnya sebagai OTG positif COVID-19 memaksanya harus menelan hingga 24 butir obat setiap harinya. Ia diminta mengisolasi diri secara ketat, memakan semua yang serba bergizi sesuai anjuran tim medis, rutin melakukan tes swab, ditambah dengan beban mental akibat kehilangan keluarga karena COVID-19.

Kini ia memang sudah sembuh dan sangat mengimbau agar masyarakat lebih waspada terhadap COVID-19. Apalagi nyatanya penyakit ini bak bunglon, bisa menyebabkan berbagai komplikasi berbeda di setiap pasien.

"At the end, aku mau bilang bahwa covid tidak hanya menyerang paru paru saja. Di kasus yg dialami keluargaku ini, ada 3 gejala yg berbeda," jelasnya. "Di kasus bapak, covid menyerang lambung. Di ibu, menyerang paru paru. Dan ternyata di saudaraku A, covid membuat darahnya mengental.."

"Aku mohon kepada semuanya untuk tetap patuhi protokol yang ada. Keluarlah hanya untuk kepentingan yang mendesak. Konsumsi vitamin c 2kali sehari dan vitamin b kompleks, atau mungkin vitamin yg bisa menaikkan imunitas tubuh," lanjutnya.

Ia juga mengingatkan potensi banyaknya OTG Corona di sekitar kita. Memang sekilas kelompok ini "tak berbahaya", namun bila sampai tertular ke golongan rentan seperti lansia dan orang dengan penyakit bawaan tertentu, bisa menimbulkan dampak yang luar biasa mengerikan.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts