Heboh Skripsi 'Zionis' Berdaftar Pustaka Wikipedia, Kemendikbud Buka Suara
SerbaSerbi

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) buka suara terkait viralnya postingan skripsi seorang sarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) yang memuat daftar pustaka dari internet.

WowKeren - Baru-baru ini media sosial dihebohkan dengan kemunculan skripsi seorang sarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) yang memuat daftar pustaka dari internet. Postingan yang viral tersebut diunggah oleh akun @gilangcomrade di Twitter.

"Kualitas Skripsi Sarjana FISIP di Indonesia," cuit Gilang Lukman. Dalam postingan tersebut juga dilengkapi 2 foto hasil tangkapan layar sebuah skripsi berjudul 'Tanda-Tanda Zionisme Dalam Film Kartun Anak Di Televisi' yang diajukan kepada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik untuk persyaratan mendapatkan gelar sarjana (S-1).

Hebohnya skripsi tersebut rupanya menarik perhatian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Kemendikbud pun turut buka suara terkait daftar pustaka yang dipermasalahkan warganet tersebut.

"Secara umum bahan pustaka yang dapat disitir adalah yang kebenaran ilmiahnya sudah teruji," kata Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemendikbud Nizam dilansir detikcom, Kamis (13/8).

Heboh Skripsi \'Zionis\' Berdaftar Pustaka Wikipedia, Kemendikbud Buka Suara

Twitter


Cara menyitir bahan pustaka dari media sosial (medsos) tidak berkaitan dengan lulus tidaknya seorang mahasiswa. Menurutnya, proses kelulusan mahasiswa dinilai melalui karya tulisnya yang harus memenuhi kaidah ilmiah.

"Penyitiran medsos tidak ada kaitannya dengan lulus atau tidak lulus. Tergantung pada karya tulisnya itu sendiri," terangnya. "Yang penting karya tulis tersebut sudah memenuhi kaidah ilmiah."

Nizam juga mengatakan sebuah karya tulis harus dapat dibuktikan isi tulisannya. Selain itu, menurutnya, harus memiliki logika di dalamnya. "Bisa dibuktikan kebenaran isi tulisan dan logika penyimpulannya," pungkasnya.

Sementara itu, diketahui jika skripsi tersebut milik alumni FISIP tahun 2016 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menanggapi viralnya skripsi tersebut, Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi UMM Himawan Sutanto mengatakan secara standar riset yang dilakukan oleh alumni Ilmu Komunikasi tahun 2016 tersebut, dinilai sudah memenuhi standar S-1. Apalagi dalam riset banyak membutuhkan rujukan data, sebagai penguatan data primer berasal dari film, buku, maupun jurnal.

"Kami sudah membaca itu, memang lagi ramai di twitter," katanya. "Tetapi yang kami lihat, capture-capture yang diunggah hanya beberapa, tidak semua."

Riset tersebut membutuhkan banyak rujukan jadi ada yang mengambil dari internet. Karena tidak memungkinkan hanya merujuk pada buku atau jurnal saja.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts