Bukan 2019, 2 Ilmuwan Ini Sebut COVID-19 Muncul Pertama Kali 2012
Dunia

Ahli virologi Jonathan Lathan dan ahli biologis molekuler Allison Wilson dari proyek Bioscience Resource Project menyatakan jika virus corona (COVID-19) pertama kali muncul pada tahun 2012 lalu, bukan 2019 seperti yang diketahui.

WowKeren - Para peneliti hingga saat ini masih mempertanyakan asal usul virus corona (COVID-19) yang tengah menjadi wabah di seluruh dunia. Seperti yang diketahui, wabah virus corona pertama kali muncul di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, pada Desember 2019 lalu.

Namun, ahli virologi Jonathan Lathan dan ahli biologis molekuler Allison Wilson dari proyek Bioscience Resource Project menemukan hal yang berbeda. Keduanya mengatakan bahwa berdasarkan penemuan mereka, pandemi COVID-19 ini pertama kali berasal dari sekelompok penambang di Tiongkok pada tahun 2012 lalu.

Hal itu diungkapkan Lathan dan Wilson setelah menerjemahkan tesis sebanyak 66 halaman dari doktor medis Tiongkok, Li Xu, yang merawat pada penambang dan mengirim sampel jaringan tubuh mereka ke Institut Virologi Wuhan untuk diteliti. "Bukti-bukti yang ada di dalam tesis membuat kami mempertimbangkan ulang seluruh hal yang kami pikir sudah diketahui, tentang asal usul pandemi COVID-19 ini," kata Latham dan Wilson melalui situs Independent Science News dilansir New York Post, Selasa (18/8).

Bahkan, Latham yakin bahwa virus Corona yang menjadi pandemi saat ini 'hampir pasti lolos' dari laboratorium Wuhan. Lebih lanjut, ia menjelaskan jika pada April 2012 lalu, enam orang penambang di Tambang Mojiang, Barat Daya Tiongkok, di Provinsi Yunan sakit setelah lebih dari 14 hari membersihkan kotoran kelelawar. Tiga di antaranya meninggal dunia.

Dalam tesisnya, Li Xu yaitu dokter yang merawat para penambang itu menjelaskan bahwa para pasiennya mengalami demam tinggi, batuk kering, badan nyeri, serta beberapa di antaranya sakit kepala. Latham dan Wilson mengungkapkan bahwa hal-hal tersebut adalah gejala COVID-19 yang selama ini disosialisasikan di seluruh dunia.


Selama dirawat, para penambang menggunakan ventilator dan berbagai macam obat, seperti steroids, blood thinners, dan antibiotik. Obat-obat ini juga kini digunakan pada pasien COVID-19 yang ada saat ini.

Setelah para pasiennya itu dites dengan beberapa tes penyakit, seperti hepatitis, demam berdarah, hingga HIV, Li Xu akhirnya berkonsultasi ke berbagai dokter di Tiongkok. Termasuk virolog Zhong Nanshan yang menangani wabah SARS pada 2003 lalu.

"Pertemuan jarak jauh dengan Zhong Nanshan sangat signifikan," jelasnya. "Ini membuktikan bahwa penyakit keenam penambang itu sangat memprihatinkan, dan bahwa virus Corona yang mirip SARS itu diduga sebagai penyebabnya."

Selain itu, Li Xu juga mengirimkan contoh jaringan dari pada penambang ke laboratorium Wuhan, pusat penelitian virus Corona di Tiongkok. Menurut tesis Li Xu, di sana para peneliti menemukan bahwa sumber infeksi ini adalah virus Corona yang mirip SARS, dari kelelawar rufous horseshoe.

Baik Latham maupun Wilson yakin bahwa virus tersebut berevolusi menjadi SARS-CoV-2 di dalam tubuh para penambang. Patogen virus itu sangat bisa beradaptasi pada manusia.

(wk/nidy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait