Dibandingkan negara lain di dunia, Singapura menjadi salah satu negara yang para petugas kesehatannya hanya sedikit terinfeksi COVID-19. Seperti apa kunci suksesnya?
- Nidya Putri
- Selasa, 18 Agustus 2020 - 12:26 WIB
WowKeren - Seluruh dunia saat ini masih berjibaku melawan penyebaran virus corona. Sayangnya, banyak petugas kesehatan yang gugur dan terinfeksi saat melakukan "perang" dengan virus yang menyerang saluran pernapasan tersebut.
Hal ini tentunya menyebabkan pelayanan kesehatan tidak optimal. Namun, dibandingkan negara lain di dunia, Singapura menjadi salah satu negara yang para petugas kesehatannya hanya sedikit terinfeksi COVID-19.
Dikutip dari South China Morning Post, kunci sukses yang dapat melindungi para petugas kesehatan Singapura dari ancaman infeksi virus corona adalah faktor persiapan, perencanaan, rasio pasien, dan peralatan pelindung. Di tengah perang melawan COVID-19, seringkali Singapura dijadikan contoh untuk ditiru oleh negara lain. Meskipun negara itu masih bergulat dengan jumlah pasien yang meningkat, namun sistem perawatan kesehatannya terus berjalan dengan lancar.
Salah satu kunci menyebutkan para petugas kesehatan Singapura telah bersiap untuk menghadapi pandemi, sejak wabah SARS pada tahun 2003. Selama wabah SARS terjadi petugas kesehatan menyumbang 41 persen dari 238 infeksi di Singapura. Hal ini membuat Singapura belajar untuk menghadapi pandemi selanjutnya.
Pakar penyakit menular, Leong Hoe Nam mengatakan bahwa wabah SARS (sindrom pernafasan akut yang parah) pada tahun 2003 telah mempersiapkan Asia untuk COVID-19, sementara negara-negara Barat tidak memiliki persiapan yang sama, sehingga banyak kekurangan alat pelindung yang memadai.
Sejak awal pandemi corona, banyak rumah sakit di Singapura bersiap diri, memberi tahu staf untuk menunda cuti dan rencana perjalanan setelah kasus pertama muncul. Sementara itu, rumah sakit dengan cepat membagi tenaga kerja mereka menjadi beberapa tim untuk memastikan ada cukup pekerja jika wabah memburuk, dan untuk memastikan para pekerja mendapat istirahat yang cukup.
Singapura memiliki 13.766 dokter, atau 2,4 dokter untuk setiap 1.000 orang. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya memiliki 4 dokter yang melayani 10.000 penduduknya. Negara seperti Myanmar dan Thailand memiliki kurang dari satu dokter untuk setiap 1.000 orang.
Rasio dokter-pasien yang baik bisa memastikan ada kecukupan spesialis untuk pekerjaan kritis, seperti dokter dan perawat yang dapat memberikan perawatan intensif, mengetahui cara mengoperasikan ventilator atau mesin mekanis untuk memompa dan mengoksidasi pasien.
“Tujuannya adalah agar Anda dapat menjalankan layanan penting dengan tingkat keamanan terbesar. Pastikan unit fungsional memiliki redundansi bawaan, dan terpisah satu sama lain," kata Chia Shi-Lu, seorang ahli bedah ortopedi. "Itu tergantung pada apa yang Anda rasa cukup untuk melaksanakan layanan jika satu tim terpengaruh, dengan memperhitungkan waktu istirahat dan beberapa sistem rotasi."
Dokter spesialis di unit gawat darurat salah satu rumah sakit di Singapura, Jade Kua menjelaskan selain keadaan darurat reguler, dokter dibagi menjadi empat tim yang terdiri dari 21 orang. Setiap tim melakukan shift 12 jam secara bergantian dan tidak berinteraksi dengan tim lain.
“Kami berusaha untuk tidak bertemu sama sekali dengan tim lain sebanyak mungkin," jelas Kua. "Kami hanya akan menyapa dari seberang koridor. Makanannya sama. Semua kafetaria kami dan semuanya sudah mendapat jarak sosial."
Selain itu, Singapura diketahui memiliki perencanaan matang di kala pandemi datang. Seperti Influenza Pandemic Preparedness and Response Plan yang diterbitkan pada Juni 2005 dan sejak saat itu terus mengembangkannya.
Rumah sakit secara teratur melakukan skenario seperti pandemi atau serangan teroris dan simulasi yang diamati oleh Kementerian Kesehatan. Mereka yang akan menilai kinerja dan merekomendasikan area untuk perbaikan.
Rencana tersebut juga mencakup kebutuhan menimbun peralatan kesehatan untuk menghindari kekurangan yang dihadapi banyak negara saat ini. Pelajaran juga terinspirasi dari kasus SARS lalu di Singapura, di mana ketika masker, sarung tangan, dan APD tidak tersedia.
Dalam makalah persiapan pandemi yang diterbitkan pada tahun 2008, yang ditulis oleh spesialis kesehatan masyarakat Singapura, Jeffery Cutter menyebutkan persediaan alat kesehatan di Singapura cukup untuk menutupi setidaknya 5 hingga 6 bulan penggunaan oleh semua pekerja perawatan kesehatan di garis depan.
Memiliki alat pelindung yang cukup meyakinkan petugas perawatan kesehatan Singapura menjadi lebih aman dan nyaman dalam merawat pasien. Mereka tidak perlu khawatir tertular virus corona di rumah sakit.
(wk/nidy)