Penduduk asli Amazon masih memblokir jalan sebagai bentuk protes terkait penanganan pandemi virus corona (COVID-19), turut beri ancaman terhadap Pemerintah Brasil.
- Ruth Meliana
- Jumat, 21 Agustus 2020 - 13:15 WIB
WowKeren - Penduduk asli Amazon beberapa waktu lalu telah memblokade salah satu jalan utama di Brasil dengan membawa busur dan panah. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes terhadap Pemerintah Brasil terkait penanganan pandemi virus corona (COVID-19).
Pemblokiran jalan yang dimulai sejak Senin (17/8) lalu rupanya masih berlangsung hingga saat ini. Para anggota suku Kayapo Mekranoti, Amazon telah memberlakukan buka-tutup bagi truk yang akan melewati jalan BR-163 tersebut selama dua hari terakhir.
Sebagai informasi, jalan tersebut merupakan jalan utama penghubung pusat pertanian di bagian barat-tengah Brazil ke pelabuhan sungai Amazon. Dampak pemblokiran tersebut menyebabkan kemacetan yang panjang terhadap truk-truk pengangkut jagung dan kedelai di luar kota Novo Progresso, negara bagian Para.
Meski memblokir jalan, namun pemimpin suku yang bernama Mudjere Kayapo menegaskan blokade tidak akan berlangsung lama. Syaratnya, Pemerintah Brasil harus mau berdiskusi dan memberikan bantuan terkait penanganan pandemi corona bagi suku Amazon.
“Kami akan tetap di sini,” ujar Mudjere Kayapo seperti dilansir dari CNN, Jumat (21/8). “Hingga pemerintah mengirimkan perwakilannya untuk bicara kepada kami.”
Namun, keinginan diskusi yang ingin dilakukan suku Amazon bersama pemerintah mengalami jalan terjal. Pasalnya, seorang hakim federal telah memerintahkan para pengunjuk rasa untuk mundur karena dinilai menyebabkan kerusakan ekonomi.
Tak sampai disitu, hakim federal tersebut bahkan telah menolak negosiasi yang diajukan suku Amazon pada Rabu (19/8) lalu. Polisi kemudian diminta secara paksa untuk memukul mundur penduduk asli tersebut jika masih terus melakukan pemblokiran jalan.
Hal itu tentunya memicu kemarahan pada penduduk Amazon yang balas mengancam Pemerintah Brasil. Mereka menegaskan sama sekali tidak menginginkan pertarungan. Namun jika pemerintah menurunkan aparat keamanan, maka ada kemungkinan pertumpahan darah akan terjadi.
”Kami tak ingin bertarung. Namun kami tak akan menerima tentara atau polisi yang datang ke sini dan memindahkan kami secara paksa," kata mereka dalam sebuah surat kepada kantor pemerintah untuk urusan penduduk asli, FUNAI. “Bila itu terjadi, akan ada pertumpahan darah di atas aspal.”
Dalam aksinya, Suku Kayapo Mekranoti menuntut pemerintahan Presiden Jair Bolsonaro untuk memberikan bantuan pada penduduk pedalaman dalam melawan pandemi virus corona. Mereka juga meminta pemerintah untuk mengeluarkan uang sebagai ganti rugi atas kerusakan lingkungan yang terjadi akibat keberadaan jalan raya yang melalui wilayah mereka.
(wk/lian)