Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan 23.057.288 kasus positif virus corona (COVID-19) dan 800.906 kasus kematian di tingkat global per Minggu (23/8) kemarin.
- Bertilia Puteri
- Senin, 24 Agustus 2020 - 11:54 WIB
WowKeren - Kasus kematian akibat virus corona (COVID-19) di dunia kini telah melampaui angka 800 ribu per Minggu (23/8) kemarin. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan 23.057.288 kasus positif COVID-19 dan 800.906 per Minggu kemarin.
Berdasarkan data WHO, Amerika Serikat (AS) dan Brasil menjadi penyumbang terbesar kasus kematian akibat COVID-19. AS melaporkan 174.246 kasus kematian, sedangkan Brasil melaporkan 113.358 kematian.
Angka kasus kematian COVID- 19 Indonesia sendiri berada di peringkat ke-19 dunia. Menurut catatan WHO, Indonesia telah melaporkan 6.594 kasus kematian akibat COVID-19.
Berdasarkan laporan WHO pada 16 Agustus 2020, angka kasus corona baru di tingkat global telah mencapai rata-rata 260 ribu per hari. Selain itu, rata-rata ada 5.500 kasus kematian akibat COVID-19 baru setiap harinya.
Menurut laporan WHO tersebut, wilayah Amerika kini masih menjadi kawasan yang paling terdampak pandemi corona. Kemudian Asia Tenggara menjadi wilayah paling terdampak kedua karena adanya peningkatan kasus COVID-19..
Sementara itu, Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, berharap pandemi corona akan berakhir dalam waktu kurang dari dua tahun. Ghebreyesus mengatakan prediksi ini merujuk pada kondisi flu Spanyol tahun 1918 yang membutuhkan waktu dua tahun untuk diatasi.
Sebagai informasi tambahan, Flu Spanyol menewaskan sedikitnya 50 juta orang. Sedangkan virus corona sejauh ini telah menewaskan lebih dari 800 ribu orang dan menginfeksi 23 juta penduduk di seluruh dunia.
Dengan kemajuan teknologi yang bisa mempersingkat dalam penghentian penyebaran virus, Ghebreyesus menekankan pentingnya persatuan nasional yang dibarengi solidaritas global. Dia mencekal segala jenis korupsi yang dilakukan ketika melawan pandemi.
"Segala jenis korupsi tidak bisa diterima. Namun, korupsi terkait APD, bagi saya sebenarnya pembunuhan. Karena jika petugas kesehatan bekerja tanpa APD, kita mempertaruhkan nyawa mereka. Dan itu juga membahayakan nyawa orang yang mereka layani," tegas Ghebreyesus.
(wk/Bert)