Survei Sebut Pasien COVID-19 Alami Tekanan Mental Akibat Rasa Bersalah
Health

Para ahli kesehatan melihat bahwa beberapa pasien yang terinfeksi COVID-19 mengalami peningkatan rasa bersalah dan takut menyebarkan virus pada orang lain.

WowKeren - Virus corona (COVID-19) rupanya tidak hanya memengaruhi seseorang secara fisik, tetapi juga mental. Para ahli kesehatan melihat bahwa beberapa pasien COVID-19 mengalami peningkatan rasa bersalah dan takut menyebarkan virus pada orang lain.

"Banyak orang mengalami emosi campuran, termasuk ketakutan dan rasa bersalah karena menginfeksi orang lain," kata seorang pekerja sosial berlisensi di Mount Sinai, Institut Kesehatan Paru Yahudi Nasional, Rachel Potter, sebagaimana dilansir dari Republika.

"Dalam banyak kasus, ketika kita sakit, kita hanya perlu fokus pada kesehatan kita. Namun, karena COVID-19 sangat menular, kita tidak hanya memikiran kesembuhan diri sendiri tetapi juga beban tambahan karena kita berpotensi menginfeksi orang yang kita cintai. Terutama mereka yang berada dalam kategori berisiko tinggi," lanjut Potter menambahkan.

Hal serupa diucapkan oleg Barry Douglas, yang baru-baru ini didiagnosa COVID-19, mengatakan bahwa dia memiliki perasaan bersalah ketika dia jatuh sakit dan dinyatakan positif terinfeksi virus tersebut. "Saya merasa tidak enak, rasa khawatir menyebarkan virus juga sangat besar," kata Douglas dalam keterangannya.


Lebih lanjut, warga Maryland tersebut menjelaskan bagaimana dia pertama kali terjangkit virus COVID-19. Douglas mengaku bahwa dirinya mengalami gejala COVID-19 setelah pergi ke pantai, padahal ia mengaku telah menjaga jarak fisik. Gejala yang ia rasa seperti sakit kepala parah, hidung tersumbat, kehilangan indera perasa dan penciuman.

"Karena khawatir itu gejala COVID-19, saya tes ke RS dan hasilnya ternyata positif. Saya merasa tidak enak, saya mulai berkendara pulang, dan langsung menelepon siapapun yang paling rentan yang telah berinteraksi belakangan ini," kata Douglas.

Pria berusia 55 tahun itu mengungkap bagaimana perasaan cemas yang dirasakan setelah dinyatakan positif COVID-19. Tidak hanya cemas dengan nasibnya sendiri, ia juga khawatir jika dia menyebarkan virus yang berpotensi membunuh anggota keluarganya sendiri.

"Tapi beruntungnya, istri, anak dan teman saya tetap memberi dukungan moral. Ayah dan ibu saya bahkan menelepon setiap hari untuk menghibur saya, agar saya tidak terlalu cemas," papar Douglas menambahkan.

Sebagai informasi tambahan, sejauh ini tercatat ada lebih dari 23,5 juta kasus COVID-19 di seluruh dunia, dengan 812,487 angka kematian. Ada lebih dari 16 juta pasien yang dinyatakan telah pulih sehingga saat ini kasus aktif COVID-19 menyentuh angka 6,690,013 orang.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait