Profesor di Syracuse University, New York, itu menyebut virus corona (COVID-19) sebagai 'Flu Wuhan' dan 'Virus Partai Komunis Tiongkok' dalam silabus pembelajarannya.
- Bertilia Puteri
- Kamis, 27 Agustus 2020 - 10:52 WIB
WowKeren - Seorang profesor yang menjadi dosen di Syracuse University, New York, Amerika Serikat (AS), mendapat sanksi disiplin usai menggunakan bahasa yang merendahkan mahasiswa Tiongkok pada silabus pembelajarannya. Profesor peruguruan tinggi swasta itu menyebut virus corona (COVID-19) sebagai "Flu Wuhan" dan kini terpaksa dirumahkan.
Selain "Flu Wuhan", profesor yang tak disebutkan namanya itu juga menyebut COVID-19 sebagai "Virus Partai Komunis Tiongkok". Pihak Syracuse University pun telah mengumumkan keputusan sanksi disiplin tersebut di laman resmi mereka.
"Syracuse University dengan tegas mengutuk rasisme dan xenofobia serta menolak kefanatikan, kebencian, dan intoleransi dalam bentuk apa pun," demikian pernyataan Syracuse University dilansir laman resmi mereka. "Bahasa menghina yang digunakan oleh seorang profesor dalam silabus pembelajarannya merusak lingkungan belajar bagi siswa kami dan menyinggung orang Tionghoa, internasional, dan Asia-Amerika di mana pun yang telah mengalami ujaran kebencian, retorika, dan tindakan sejak pandemi dimulai."
Pihak kampus juga mengatakan bahwa profesor tersebut telah ditempatkan pada cuti administratif dari mengajar dan dikeluarkan dari kelas sampai penyelidikan dapat diselesaikan. Keluhan juga telah diajukan kepada Office of Equal Opportunity, Inclusion and Resolution Services.
Sementara itu, julukan-julukan terhadap virus corona yang kini mewabah di seluruh dunia memang menjadi subjek yang kontroversial dan kerap dipolitisasi. Seperti diketahui, virus corona diyakini berasal dari Wuhan, Tiongkok.
Hal ini membuat virus tersebut sering dijuluki menurut tempat asalnya itu. Melansir Syracuse.com, konvensi penamaan dan deskripsi geografis seperti yang ada di silabus profesor tersebut dipercaya bisa mengakibatkan diskriminasi yang salah tempat.
Sebagai contoh, sudah ada sejumlah kasus insiden kebencian yang dilaporkan selama pandemi corona. Dalam kasus-kasus tersebut, orang-orang dilaporkan telah merujuk pada virus corona.
Di sisi lain, COVID-19 hingga kini telah menginfeksi lebih dari 24 juta orang di seluruh dunia. Kasus kematian yang dilaporkan akibat COVID-19 ini juga telah melebihi angka 800 ribu.
(wk/Bert)