20 Tahun Berkarir, Kisah Pilu Mendiang Barli Asmara Dulu Pesuruh Rumah Batik Terungkap
Instagram/barliasmara
Selebriti

Barli Asmara sudah bekerja keras dan berkarir di industri fashion selama 20 tahun dan mengakui kalau ia memulai dari nol. Berikut kisah perjalanan mendiang Barli sebagai desainer.

WowKeren - Desainer Barli Asmara meninggal dunia pukul 14:00 pada 27 Agustus. Ia wafat diduga karena sakit.

Sebelum meninggal, Barli sempat menyerahkan puluhan koleksi premium untuk lelang peduli korban COVID-19. Barli mengaku koleksi yang ia serahkan itu untuk penggalangan dana yang digelar Dompet Dhuafa.

"Saya bersyukur di bidang fashion tidak begitu terpengaruh ya dengan adanya (pandemi) corona ini. Tidak seperti sektor-sektor lain yang merasakan impact -nya. Dari situ saya berpikir bahwa ini tanggung jawab saya juga,” ujarnya saat menyerahkan puluhan baju rancangannya kepada Dompet Dhuafa, Senin (13/7/2020) di rumahnya di kawasan Jakarta Selatan. "Ini koleksi saya yang selalu out of stock, dalam waktu yang singkat biasanya langsung habis. Di sini, teman-teman semua bisa beli produk rancangan saya ini di Dompet Dhuafa."


Bukan hanya sekedar sosok yang humanis dan berjiwa sosial, Barli adalah desainer yang memulai karir dari nol. Bercita-cita jadi desainer sejak usia 12 tahun, Barli yang malang melintang di dunia fashion selama 20 tahun itu pernah merasakan jadi pesuruh sebuah rumah batik.

"Karier dan segala pencapaian ini tidak instan tapi butuh perjuangan. Banyak yang tidak tahu bagaimana perjuangannya meniti karier hingga kini sudah belasan tahun saya berkarya. “Bahkan saya pernah menjadi pesuruh di rumah batik, hal ini dilakukan agar bisa dekat dengan cita-cita saya untuk menjadi seorang designer," seru desainer kelahiran Bandung itu saat hadir di sebuah acara di Yogyakarta pada 2018. "Bekerja keras, semangat, jangan andalkan idealisme untuk diri sendiri, tidak boleh egois, harus berbagi, raihlah mimpi, dan ucapkanlah dengan hal-hal positif supaya kebaikan bisa kembali kepada diri kita sendiri."

"Saya tidak punya mobil, tidak punya kacamata banyak, tidak punya baju, tidak punya parfum, makan cuma di warteg. Namun, saya dekati orang-orang yang bisa menunjang karier saya, seperti tukang jahit dan tukang pola. Dari sanalah saya belajar tentang cara membuat baju. Itu jejak langkah awal saya," katanya.

Bukan cuma dari segi karir, desainer yang mulai dikenal tahun 2000 itu juga harus berjuang untuk hidupnya. Barli sempat lahir prematur dan merasakan hidup di inkubator.

"Waktu lahir, saya harus diinkubator karena [saya bayi] prematur. Saking kurusnya saya, sampai-sampai keluarga sering khawatir. Ibu dan nenek saya sangat mencintai saya, sehingga saya lebih dekat dengan mereka ketimbang ayah saya," kata Barli. "Saya tergolong anak dari keluarga mampu, tetapi saya tidak difasilitasi. Perjalanan saya tidak semulus apa yang dipikir orang. Saya harus belajar sendiri untuk mandiri, survive, dan struggle supaya bisa sampai puncak."

(wk/riaw)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!