Peneliti AS menemukan kasus reinfeksi COVID-19 di Nevada, dimana sang pasien ternyata mengalami gejala klinis yang jauh lebih berat ketimbang infeksi pertamanya. Begini penjelasan lengkapnya.
- Elvariza Opita
- Senin, 31 Agustus 2020 - 11:05 WIB
WowKeren - Pengendalian pandemi COVID-19 tampaknya akan berjalan lebih alot dengan ditemukannya beberapa kemungkinan "buruk". Mulai dari mutasi yang menyebabkan virus Corona menjadi lebih menular hingga temuan kasus infeksi ulang alias reinfeksi.
Hal ini diungkap oleh sekelompok peneliti di Amerika Serikat. Dikutip dari Live Sciences, ada 3 kasus reinfeksi yang menyebabkan pasiennya mengalami gejala klinis yang lebih parah, salah satunya terjadi di Nevada.
"Penting untuk dicatat, bahwa ini adalah temuan tunggal," ujar Mark Pandori selaku Kepala Nevada State Public Health Laboratory yang juga meneliti kasus reinfeksi ini. "Ini tidak membenarkan informasi apapun kepada kami terkait dengan generalisasi dari fenomena ini."
Dilaporkan dalam jurnal Social Science Research Network yang belum ditinjau oleh sejawat, pasien berusia 25 tahun itu pertama kali dinyatakan positif COVID-19 pada pertengahan April 2020. Namun kala itu sang pasien hanya mengalami gejala klinis yang "biasa saja" sampai dinyatakan sembuh 10 hari sesudahnya.
Sebulan kemudian, sang pasien kembali mengalami gejala COVID-19, namun kali ini jauh lebih parah. Bahkan kadar oksigen dalam darahnya turun hingga ia harus dirawat di rumah sakit serta menerima bantuan oksigen.
Peneliti kemudian menganalisis genom virus Corona yang menginfeksi pasien tersebut. Hasilnya menunjukkan virus yang sama memang kembali menginfeksi, hanya saja ada perbedaan pada beberapa gen akibat mutasi alami.
Mereka juga menyebut sang pasien tak mengembangkan antibodi yang efektif melindungi sampai 100 persen. Namun para peneliti memastikan kasus infeksi ulang semacam itu belum bisa digeneralisasi dan perlu riset lebih jauh.
"Ini mungkin mewakili peristiwa langka," ujar para peneliti, dilansir dari Nevada Today, Senin (31/8). "Setelah seseorang sembuh dari COVID-19, kita masih belum tahu berapa banyak yang dibangun, berapa lama itu bisa bertahan, atau seberapa baik antibodi berperan dalam perlindungan terhadap infeksi ulang."
"Kami menyimpulkan bahwa ada kemungkinan seseorang untuk terinfeksi beberapa kali dari SARS-CoV-2," imbuh mereka. "Namun generalisasi dari temuan ini belum diketahui."
Sebelumnya kasus reinfeksi COVID-19 ini sempat disangkal kebenarannya. Namun temuan kasus yang telah dikonfirmasi di Hong Kong hingga 2 negara Eropa menyebabkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membuka opsi potensi terjadinya reinfeksi.
(wk/elva)