Rahasia kelam warga Xinjiang dalam menjalani lockdown pandemi COVID-19 kembali terungkap. Diketahui, otoritas setempat memaksa warganya untuk mengonsumsi obat herbal yang belum tentu khasiatnya untuk menangkal corona.
- Nidya Putri
- Selasa, 01 September 2020 - 11:47 WIB
WowKeren - Sejak munculnya kasus baru COVID-19 di beberapa wilayah di Tiongkok, otoritas setempat mengambil langkah cepat dengan melakukan lockdown demi mencegah penularan lebih besar. Seperti yang terjadi di wilayah Xinjiang, Tiongkok.
Namun, baru-baru ini Otoritas Xinjiang dilaporkan memberlakukan langkah-langkah kejam untuk memerangi virus Corona. Mulai dari menyemprotkan disinfektan ke tahanan hingga memaksa warga minum obat tradisional yang belum terbukti manjur melawan Corona.
Dilansir Associated Press, menurut postingan di media sosial dan wawancara tiga orang yang dikarantina di Xinjiang, diketahui pemerintah setempat melakukan hal-hal keji tersebut. Seperti menyemprotkan disinfektan ke tubuh tahanan, mengunci warga secara paksa di rumah mereka, menerapkan karantina ketat lebih dari 40 hari dan menangkap setiap orang yang melanggar aturan lockdown.
Salah satu wanita Uighur menuturkan bahwa saat dirinya ditahan di tengah pandemi Corona, dirinya dipaksa meminum obat tradisional yang membuatnya merasa lemas dan mual. Ia bersama beberapa orang lainnya diharuskan telanjang sekali dalam seminggu saat petugas menyemprotkan disinfektan ke tubuh mereka di dalam sel tahanan.
"Sangat panas. Tangan saya rusak, kulit saya mengelupas," tutur wanita paruh baya yang enggan menyebut namanya karena khawatir menerima balasan.
Setelah sebulan ditahan, wanita Uighur ini dibebaskan namun dia terjebak di rumahnya karena perintah tetap di rumah yang bersifat memaksa. Beberapa warga Xinjiang melaporkan bahwa pintu rumah mereka disegel petugas dengan batang besi selama lockdown diterapkan.
Sehari sekali akan ada petugas masyarakat yang datang dan memaksanya meminum sebuah obat tradisional. Disebutkan petugas itu bahwa wanita ini akan ditahan lagi jika dia tidak meminumnya.
Diketahui, langkah-langkah keras otoritas Xinjiang saat lockdown tak hanya dirasakan warga minoritas muslim di Xinjiang, namun juga warga mayoritas Han. Menurut laporan Associated Press, seorang warga Han mengaku jika dirinya dipaksa minum obat tradisional selama masa karantina.
Pemerintah Tiongkok sendiri diketahui kerap mendorong pengobatan tradisional sejak awal kemunculan Corona, meskipun tidak adanya data klinis yang valid menunjukkan kemanjuran obat-obat tradisional itu. Dalam laporan media nasional Tiongkok, pemerintah menyatakan bahwa partisipasi dalam perawatan dengan obat tradisional telah mencapai 100 persen. Namun saat ditanya soal warga yang mengeluh dipaksa minum obat tradisional, salah satu pejabat setempat menyatakan semuanya dilakukan 'menurut opini pakar'.
Di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, kritikan terhadap obat tradisional Tiongkok dibungkam. Bahkan, pada bulan Mei lalu, pemerintah mengumumkan sebuah rancangan undang-undang (RUU) yang akan mengkriminalisasi setiap pernyataan yang 'memfitnah' obat tradisional Tiongkok.
"Tidak satupun dari obat-obatan ini telah terbukti efektif dan aman secara ilmiah. Tidak etis memaksa orang, baik sakit atau sehat, untuk minum obat yang tidak terbukti," komentar mantan pakar biokimia Tiongkok, Fang Shimin, yang kini tinggal di Amerika Serikat (AS).
(wk/nidy)