Majalah asal Prancis, Charlie Hebdo, akan menerbitkan kembali kartun Nabi Muhammad untuk menandai dimulainya persidangan atas kasus pembantaian di kantor media tesebut pada 2015 tahun silam.
- Nidya Putri
- Rabu, 02 September 2020 - 11:03 WIB
WowKeren - Majalah asal Prancis, Charlie Hebdo, akan menerbitkan kembali kartun Nabi Muhammad. Penerbitan kartun Nabi Muhammad ini sendiri sebelumnya telah pemicu pembantaian di kantor media satir itu yang menyebabkan 12 orang tewas pada tahun 2015 lalu.
Keputusan kontroversial Charlie Hebdo ditujukan untuk menandai dimulainya persidangan atas kasus pembantaian di kantor media tesebut. "Kami tidak akan pernah beristirahat dan menyerah," kata Direktur Charlie Hebdo, Laurent Sourisseau dilansir AFP.
Sementara itu, tim editorial Charlie Hebdo menyatakan, sejak insiden pada 2015 lalu mereka berulang kali diminta untuk kembali menerbitkan kartun Nabi Muhammad. "Kami selalu menolak itu, bukan karena dilarang, hukum mengizinkan kami untuk melakukannya, tapi karena ada kebutuhan untuk alasan yang baik untuk diperdebatkan," ungkap editorial Charlie Hebdo.
Menanggapi hal ini, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengungkapkan bukan kapasitasnya untuk memberikan penilaian atas keputusan majalah Charlie Hebdo kembali menerbitkan kartun Nabi Muhammad. Pasalnya, negaranya memiliki kebebasan berekspresi bagi seluruh rakyatnya.
"Tidak pernah menjadi kewenangan presiden untuk memberikan penilaian atas pilihan editorial jurnalis atau berita, tidak pernah. Karena kami memiliki kebebasan pers," kata Macron di sela-sela kunjungannya di Lebanon.
Meski begitu, ia menekankan warga Prancis tetap harus berkewajiban untuk menunjukkan kesopanan dan rasa hormat satu sama lain. Sehingga, terhindar dari dialog-dialog berbau kebencian.
Sebelumnya diketahui, pelaku pembantaian di kantor Charlie Hebdo, Said dan Cherif Kouachi juga ikut terbunuh dalam peristiwa berdarah yang terjadi 5 tahun silam tersebut. Meski pelaku utama tewas, pengadilan Prancis mengadili 14 orang yang diduga kaki tangan serangan di kantor Charlie Hebdo di Paris.
(wk/nidy)