Hal itu disampaikan Menlu Al Nahyan dalam pidatonya. Ia mengatakan UEA mengambil keputusan normalisasi hubungan dengan Israel demi memberikan masa depan yang damai di Palestina.
- Luthfiatun Nisa
- Rabu, 02 September 2020 - 18:29 WIB
WowKeren - Menteri Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Uni Emirat Arab (UEA), Shaikh Abdullah bin Zayed Al Nahyan, menyatakan ikatan antara UEA dan Palestina tidak tergoyahkan dan akan selalu ada. Dia pun menjamin orang-orang Palestina yang tinggal di UEA.
Hal itu disampaikan Al Nahyan saat berpidato melalui konferensi video dalam acara yang digelar oleh Komunitas Palestina di UEA pada Senin (31/8) waktu setempat. Dalam kesempatan tersebut, ia mengatakan UEA mengambil keputusan normalisasi hubungan dengan Israel demi memberikan masa depan yang damai di wilayah itu.
"Saya menjamin Anda yang tinggal di tanah air kedua Anda ini. Saya jamin lagi, bahwa ikatan tak tergoyahkan antara UEA dan Palestina akan tetap ada, kokoh dan tidak akan pernah berubah," terangnya.
Al Nahyan juga menghargai peran positif yang dimainkan oleh komunitas Palestina dalam upaya pembangunan UEA. Dia menegaskan kembali UEA akan terus merangkul dan dengan teguh mendukung Palestina dan perjuangan mereka.
"Kami bangga melihat kisah sukses saudara-saudara Palestina kami terus terungkap di UEA. Ini menambah berbagai kisah inspiratif yang disaksikan di negara ini yang telah berkontribusi pada perkembangan dan pertumbuhan yang dicapai oleh bangsa kita," tutur Shaikh Al Nahyan.
Lebih lanjut, Al Nahyan juga mengaku salut atas pendirian Klub Persahabatan Palestina-Emirat. "Saya lihat ini sebagai langkah signifikan yang mencerminkan ikatan persaudaraan antara negara kita dan berkontribusi untuk memperkuat komunikasi dan hubungan antara dua persaudaraan," jelasnya.
Selain itu, Menteri Al Nahyan juga menegaskan sikap UEA akan tetap mendukung sikap Arab yang menyerukan untuk mendirikan negara Palestina merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya. "Kami akan terus mendukung perjuangan Palestina berdasarkan pada pendirian bersejarah kami yang berasal dari keyakinan yang berakar dalam dan tak tergoyahkan yang tidak akan pernah berubah sebagai hasil dari pertimbangan apapun," katanya.
"Saya ingin meyakinkan semua orang di sini bahwa UEA melihat pembangunan perdamaian sebagai kebutuhan strategis untuk kawasan ini. Namun, kebutuhan strategis ini tidak akan mengorbankan dukungan kami untuk perjuangan Palestina dan hak-hak persaudaraan rakyat Palestina," tambahnya.
Di sisi lain, kesepakatan Israel-UEA, yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 18 Agustus lalu dan merupakan kesepakatan ketiga yang dicapai Israel dengan negara Arab. Namun kerja sama itu bisa meningkatkan prospek kesepakatan serupa dengan negara-negara Teluk yang pro-Barat.
Trump mengatakan para pemimpin dari kedua negara akan menandatangani perjanjian di Gedung Putih dalam tiga pekan. Di bawah kesepakatan itu, Israel berjanji untuk menghentikan rencana aneksasi wilayah Tepi Barat, sebuah konsesi yang disambut baik oleh Eropa dan beberapa pemerintah Arab pro-Barat sebagai pendorong harapan perdamaian.
Meski demikian Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Israel tidak akan meninggalkan rencananya untuk mencaplok Lembah Jordan dan permukiman Yahudi di Tepi Barat yang diduduki.
(wk/luth)