Hampir 60 persen kasus aktif di India berasal dari negara bagian Andhra Pradesh, Tamil Nadu, Karnataka, Maharashtra dan Uttar Pradesh, negara bagian terpadat di India.
- Luthfiatun Nisa
- Selasa, 08 September 2020 - 09:01 WIB
WowKeren - India menjadi negara kedua dengan jumlah kasus infeksi virus corona (COVID-19) tertinggi di dunia setelah Amerika Serikat, sekaligus membuat negara yang dipimpin oleh Perdana Menteri Narendra Modi itu menyalip Brasil. Dilaporkan bahwa jumlah kasus infeksi COVID-19 kian meningkat di seluruh negara bagian India.
Berdasarkan data statistik dari Worldometers.info, terdapat lebih dari 90 ribu kasus COVID-19 tambahan di India dalam 24 jam terakhir. Kementerian Kesehatan India juga melaporkan 1,129 kematian baru sehingga total kematian menjadi 72,816 jumlah korban nasional tertinggi ketiga di dunia. Sejauh ini, India telah mencatat lebih dari 4,2 juta kasus COVID-19 yang dikonfirmasi.
Sebagai negara terpadat kedua di dunia dengan 1,4 miliar orang, India telah mencatat peningkatan kasus virus corona harian terbesar di dunia selama hampir sebulan. Dengan lebih dari 2 juta kasus baru dalam sebulan terakhir dan virus menyebar ke kota-kota kecil dan desa-desa di negara itu, pemerintah India terus melonggarkan pembatasan untuk mencoba dan membangunkan ekonomi yang terpuruk.
Pada Senin (7/9) waktu setempat, Metro Delhi atau sistem transit cepat yang melayani ibu kota New Delhi dan daerah sekitarnya, kembali beroperasi setelah lima bulan tutup. Hanya orang tanpa gejala yang diizinkan naik kereta dengan tetap diwajibkan memakai masker, menjaga jarak sosial, dan pemeriksaan suhu wajib.
Pembukaan kembali kereta terjadi setelah ekonomi India menyusut lebih cepat daripada negara besar lainnya, hampir 24 persen pada kuartal terakhir. Penderitaan ekonomi India berawal dari demonetisasi mata uang negara pada 2016 dan peluncuran pajak barang dan jasa yang tergesa-gesa pada tahun berikutnya. Kemudian, lockdown ketat untuk mengekang virus yang dimulai pada 24 Maret semakin memperburuk kesengsaraan ekonomi negara.
Ketika Perdana Menteri Narendra Modi memerintahkan 1,4 miliar orang India untuk tinggal di dalam rumah, seluruh perekonomian mati dalam waktu empat jam. Jutaan orang kehilangan pekerjaan secara instan. Puluhan ribu pekerja migran yang kehilangan uang dan takut kelaparan keluar dari kota dan kembali ke desa. Migrasi yang belum pernah terjadi sebelumnya tidak hanya mengosongkan ekonomi India tetapi juga menyebarkan virus ke pelosok negara itu.
Kini, seiring meningkatnya kasus, sebagian besar negara, kecuali di daerah berisiko tinggi, telah terbuka dan pihak berwenang mengatakan bahwa mereka tidak punya banyak pilihan. "Meskipun kehidupan itu penting, mata pencaharian sama pentingnya," kata Rajesh Bhusan, pejabat tinggi kementerian kesehatan federal India pada jumpa pers pekan lalu, sebagaimana dikutip dari Republika.
Hampir 60 persen kasus aktif di India berasal dari negara bagian Andhra Pradesh, Tamil Nadu, Karnataka, Maharashtra dan Uttar Pradesh, negara bagian terpadat di India. Infeksi juga kembali ke daerah yang telah berhasil memperlambat penyebaran virus.
Lonjakan kasus baru-baru ini juga menyoroti risiko strategi India yang terlalu mengandalkan tes cepat yang menyaring antigen atau protein virus. Tes ini murah, memberikan hasil dalam hitungan menit dan memungkinkan India menguji lebih dari satu juta pasien setiap hari.
Kendati demikian, menurut pakar penyakit menular dari Christian Medical College di Vellore di India selatan, Dr. Gagandeep Kang, tes cepat juga kurang tepat dan cenderung melewatkan orang yang terinfeksi. India juga mengatakan tingkat pemulihannya adalah 77,3 persen dan tingkat kematian kasus telah menurun menjadi sekitar 1,72 persen.
(wk/luth)