Salah satu kelompok oposisi Rusia, Anti-Corruption Foundation (FBK), mengklaim bahwa mereka juga menjadi sasaran serangan menggunakan cairan kimia pada Selasa (8/9) waktu setempat.
- Luthfiatun Nisa
- Rabu, 09 September 2020 - 08:08 WIB
WowKeren - Saat kasus peracunan Alexei Navalny tengah menjadi sorotan global, kini salah satu kelompok oposisi Rusia, Anti-Corruption Foundation (FBK), mengklaim bahwa mereka juga menjadi sasaran serangan menggunakan cairan kimia pada Selasa (8/9) waktu setempat.
Salah satu anggota FBK, Olga Gousseva, mengatakan bahwa serangan tersebut terjadi saat kelompoknya sedang menggelar rapat di kantor mereka di Siberia. "Seseorang tak dikenal masuk ke dalam kantor dan memecahkan sebuah botol yang berisi cairan kimia tak teridentifikasi. Saat itu, sedang ada rapat di kantor dengan sekitar 50 orang," ujar Gousseva, sebagaimana dikutip dari CNN.
Direktur FBK, Ivan Jdanov, mengatakan bahwa setelah itu bau menusuk yang menjijikkan melingkupi seisi ruangan. Jdanov juga mengonfirmasi bahwa dua orang dilarikan ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut setelah terpapar bahan kimia tersebut.
Media oposisi Rusia, MBKh, melaporkan bahwa polsi sudah mengetahui jenis bahan kimia yang digunakan dalam serangan tersebut. Menurut keterangan kepolisian, bahan kimia tersebut merupakan produk antiseptik yang biasa digunakan dalam obat hewan.
Tak ayal, kabar ini menjadi perhatian karena Rusia sedang disorot berbagai pihak atas dugaan meracuni tokoh oposisi Alexei Navalny. Tokoh yang dikenal selalu mengkritik kepresidenan Rusia tersebut diduga diracun menggunakan Novichok. Racun saraf tersebut adalah zat sama yang menurut Inggris digunakan untuk meracuni agen ganda Rusia Sergei Skripal dan putrinya dalam serangan di Inggris pada 2018 lalu.
Novichok juga merupakan racun digunakan oleh badan intelijen rahasia era Uni Soviet. "Hanya sejumlah kecil orang yang memiliki akses ke Novichok dan racun ini digunakan oleh dinas rahasia Rusia dalam serangan terhadap mantan agen Sergei Skripal," tutur Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab, saat dimintai komentar terkait kasus ini.
Kendati demikian, pemerintah Rusia membantah keterlibatan para pejabat tinggi atau bahkan Presiden Vladimir Putin dalam kasus dugaan peracunan Alexei Navalny. "Kami tidak bisa menanggapi tuduhan ini (keterlibatan dalam peracunan Navalny) dengan serius. Begini, tuduhan yang sama sekali tidak mungkin benar dengan cara apa pun adalah kebisingan kosong. Kami tidak bermaksud untuk menganggapnya serius," kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov.
Di sisi lain, saat ini Navalny dikabarkan telah sadar dari koma dan kini berada dalam perawatan lebih lanjut di Rumah Sakit Charite di Berlin, Jerman. "Pasien sudah dikeluarkan dari koma medis dan kini juga sudah lepas dari ventilator mekanis. Dia juga sudah merespons stimulan verbal," demikian pernyataan Rumah Sakit Charite.
Koma medis atau induced coma merupakan metode medis untuk membuat pasien tidak sadarkan diri dengan obat bius guna mencegah kerusakan otak. Pihak rumah sakit juga menjelaskan bahwa ventilasi mesin yang dipasang pada pasien tersebut sudah mulai dilepaskan.
"Saat ini masih terlalu dini untuk mengukur kemungkinan dampak jangka panjang dari keracunan parah yang ia alami," lanjut pernyataan pihak Rumah Sakit Charite.
(wk/luth)