Rusia dituding menggunakan racun saraf Novichok untuk meracuni tokoh oposisi Alexei Navalny dan dituntut melakukan penyelidikan yang transparan serta menyeluruh atas kasus ini.
- Luthfiatun Nisa
- Jumat, 11 September 2020 - 10:11 WIB
WowKeren - Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyampaikan kepada Perdana Menteri Italia, Giuseppe Conte, bahwa ia kan mendirikan komite untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus peracunan pemimpin oposisi Rusia, Alexei Navalny. Hal itu disampaikan Conte dikutip dari wawancara dengan surat kabar lokal Il Foglio. Keputusan Putin ini diambil setelah sejumlah pihak mendesak Rusia untuk melakukan penyelidikan, termasuk PBB dan negara-negara G7.
"Presiden Putin telah memberi jaminan kepada saya (dalam percakapan terakhir) bahwa Rusia bermaksud membersihkan apa yang telah terjadi," kata Conte. "Dan memberi tahu saya bahwa ia akan menyusun komite penyelidikan serta telah siap untuk berkolaborasi dengan otoritas Jerman," ujar Conte menambahkan.
Kendati mengatakan akan melakukan penyelidikan atas kasus ini, sebelumnya pemerintah Rusia menegaskan kalau dugaan peracunan Navalny hanyalah sebuah kampanye disinformasi untuk mempromosikan sanksi baru terhadap Moskow.
Kemlu Rusia merilis pernyataan setelah Menteri Luar Negeri G7 pada Selasa (8/9) menuntut agar negara tersebut segera menemukan dan menuntut pihak yang bertanggung jawab atas dugaan keracunan yang dialami Navalny.
"Kampanye disinformasi besar-besaran sedang terjadi yang bertujuan untuk 'memobilisasi sentimen sanksi' dan tidak ada hubungannya dengan kesehatan Navalny atau 'mencari tahu alasan sebenarnya ia dirawat di rumah sakit," tulis kementerian luar negeri Rusia dalam keterangannya.
Menyusul pernyataan G7, Rusia juga menegaskan kembali tuduhan Jerman terkait adanya racun zat saraf Novichok karena telah menolak untuk membagikan informasi lebih rinci terkait kasus Navalny. "Serangan tak berdasar terhadap Rusia terus berlanjut."
Negara-negara G7 termasuk Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, dan Jepang mengatakan bahwa Berlin mengonfirmasi Navalny yang merupakan tokoh oposisi Presiden Valdimir Putin telah diracun. Sebelumnya, Uni Eropa juga sempat mengancam akan menjatuhi sanksi dan memperingatkan Rusia.
Navalny, tokoh yang dikenal selalu mengkritik kepresidenan Rusia, diduga diracun menggunakan Novichok. Racun saraf tersebut adalah zat sama yang menurut Inggris digunakan untuk meracuni agen ganda Rusia Sergei Skripal dan putrinya dalam serangan di Inggris pada 2018 lalu. Novichok juga merupakan racun digunakan oleh badan intelijen rahasia era Uni Soviet.
Di sisi lain, saat ini Navalny dikabarkan telah sadar dari koma dan kini berada dalam perawatan lebih lanjut di Rumah Sakit Charite di Berlin, Jerman. "Pasien sudah dikeluarkan dari koma medis dan kini juga sudah lepas dari ventilator mekanis. Dia juga sudah merespons stimulan verbal," demikian pernyataan Rumah Sakit Charite.
(wk/luth)