Menteri Luar Negeri Tiongkok dan India melakukan pertemuan dan mengeluarkan pernyataan bersama yang menyebutkan bahwa kedua pihak setuju untuk meredakan ketegangan.
- Luthfiatun Nisa
- Jumat, 11 September 2020 - 14:55 WIB
WowKeren - Tiongkok dan India sepakat untuk secepatnya meredakan ketegangan setelah pasukan di perbatasan terlibat serangkaian bentrokan di Himalaya, daerah yang disengketakan kedua negara. Dilaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Tiongkok dan India melakukan pertemuan dan mengeluarkan pernyataan bersama yang menyebutkan bahwa kedua pihak setuju untuk meredakan ketegangan.
"Pasukan pertahanan perbatasan kedua negara harus melanjutkan dialog, melepaskan diri secepat mungkin, menjaga jarak yang diperlukan, dan meredakan situasi di lapangan," tulis pernyataan tersebut.
Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, dan Menteri Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar, dalam pertemuan pada Kamis (10/9) sepakat untuk menghindari tindakan yang dapat memperburuk situasi. Wang dan Jaishankar melakukan pertemuan selama hampir dua jam untuk mencapai konsensus lima poin dalam meredakan ketegangan di perbatasan.
Dilansir dari CNN, seorang sumber mengatakan bahwa Jaishankar menyoroti perhatian kuat pada pasukan China serta peralatan militer di sepanjang Garis Kontrol Aktual (LAC). Dia menyebutkan kehadiran tentara Tiongkok yang begitu besar tidak sesuai dengan Perjanjian 1993 dan 1996, serta telah menciptakan titik konflik di sepanjang LAC.
Jaishankar menyampaikan kepada Wang bahwa Tiongkok belum memberikan penjelasan kredibel atas penempatan tersebut. Perilaku provokatif tentara garis depan Tiongkok di berbagai gesekan di sepanjang LAC menunjukkan pengabaian terhadap perjanjian dan protokol bilateral.
Sementara itu, menurut pernyataan yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Wang menekankan tindakan provokasi seperti penembakan dan tindakan berbahaya lainnya harus segera dihentikan karena melanggar komitmen yang dibuat oleh kedua belah pihak. "Penting untuk menarik mundur semua personel dan peralatan yang masuk tanpa izin. Pasukan perbatasan harus segera melepaskan diri sehingga situasi dapat mereda," kata Wang.
Meskipun kedua belah pihak sudah memutuskan untuk meredakan ketegangan, tapi sikap itu tidak sesuai dengan realitas di lapangan. Selama bersitegang, Tiongkok dan India telah mengeluarkan pernyataan serupa mengenai upaya meredakan ketegangan. Tapi permasalahan perbatasan tidak pernah diselesaikan dengan benar.
Tiongkok dan India dilaporkan saling melepas tembakan setelah puluhan tahun melakukan gencatan senjata. Pada Selasa (8/9) waktu setempat, kedua negara diduga melepaskan tembakan ke perbatasan yang disengketakan, tempat di mana penggunaan senjata dilarang menurut perjanjian tahun 1996.
Insiden ini terjadi hanya tiga hari setelah pertemuan antara menteri pertahanan Tiongkok dan India di ibu kota Rusia, Moskow, untuk meredakan ketegangan antara kedua negara di perbatasan.
Serangan tersebut adalah yang pertama kalinya sejak 45 tahun lalu, tepatnya sejak 1975, ketika empat tentara India tewas di perbatasan akibat tembakan. Sedangkan pada bulan Juni lalu, India kehilangan sekitar 20 tentaranya dalam pertarungan tangan kosong dengan militer Tiongkok di Garis Kontrol Aktual (LAC), perbatasan de facto dekat wilayah Himalaya di Ladakh.
Ketegangan antara kedua negara makin memanas pada September. Pernyataan yang dirilis di situs web militer Tiongkok mengatakan pasukan India secara ilegal masuk tanpa izin melalui tepi selatan Danau Pangong Tso di bagian barat perbatasan Tiongkok-India pada 7 September lalu.
Namun pihak New Delhi membantah tuduhan Beijing dan mengatakan bahwa Angkatan Darat India tidak pernah melanggar LAC atau menggunakan cara agresif apa pun, apalagi menembak. "Tiongkok terus melakukan aktivitas provokatif untuk mengeskalasi," kata Kementerian Pertahanan India dalam sebuah pernyataan.
(wk/luth)