Iran Disebut Berencana Bunuh Dubes AS untuk Afsel Demi Balas Dendam Kematian Soleimani
AFP
Dunia

Intelijen AS meyakini Iran memiliki peluang besar melakukan balas dendam atas pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani, dan mereka telah memantau dengan cermat rencana tersebut.

WowKeren - Iran dilaporkan berencana membunuh duta besar Amerika Serikat untuk Afrika Selatan, Lana Marks, sebagai balas dendam atas kematian Jenderal Qasem Soleimani. Sebagaimana yang diketahui, Komandan Pasukan Quds Garda Revolusi Iran itu tewas dalam serangan drone di dekat Bandara Baghdad yang diluncurkan AS pada Januari lalu. Hingga kini, warga Iran masih belum bisa menerima kematian Soleimani dalam insiden tersebut.

Hal itu diungkap oleh Politico yang mengutip dua intelijen AS yang mengetahui dan melihat laporan itu. Intelijen AS disebut telah mengetahui ancaman terhadap Lana Marks pada musim semi tahun ini. Tetapi intelijen menunjukkan ancaman tersebut menjadi lebih spesifik dalam beberapa pekan terakhir.

Marks hanyalah salah satu dari beberapa pejabat AS yang menurut badan intelijen Amerika sedang dipertimbangkan Teheran untuk menjadi target pembalasan atas kematian Soleimani. Sebelumnya, Iran juga pernah merencanakan pembunuhan terhadap duta besar Amerika, itulah sebabnya mengapa komunitas intelijen menganggap serius ancaman ini.

Dilansir dari CNN pada Selasa (15/9), Intelijen AS meyakini Iran memiliki peluang besar melakukan balas dendam atas pembunuhan Soleimani, dan mereka telah memantau dengan cermat rencana tersebut.


Sebagai informasi tambahan, Soleimani tewas dalam serangan pesawat tak berawak AS di Irak pada awal Januari lalu. Penyelidik hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan serangan pesawat tak berawak Amerika Serikat yang menewaskan Qassem Soleimani dan sembilan orang lainnya merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional. PBB menilai AS telah gagal untuk memberikan bukti yang cukup tentang serangan tersebut.

Pelapor Khusus PBB, Agnes Callamard, menyatakan dalam laporannya bahwa serangan itu telah melanggar Piagam PBB. Callamard menyerukan akuntabilitas atas pembunuhan yang ditargetkan oleh drone dan regulasi senjata yang lebih besar.

Callamard menambahkan, serangan drone yang terjadi pada 3 Januari merupakan insiden pertama saat suatu negara menyebut pembelaan diri sebagai pembenaran untuk menyerang aktor sebuah negara di wilayah negara lain.

Serangan drone tersebut terjadi ketika konvoi kendaraan Soleimani meninggalkan bandara Baghdad, Irak. Iran telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Presiden AS Donald Trump dan 35 orang lainnya atas pembunuhan Soleimani.

Soleimani sendiri adalah tokoh penting yang menyerukan kampanye Iran untuk mengusir pasukan AS dari Irak. Ia merupakan jenderal penting dalam membangun pasukan proxy Iran di Timur Tengah. Washington menuduh Soleimani mendalangi serangan oleh milisi yang berpihak Iran pada pasukan AS di wilayah tersebut.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait