Perubahan Iklim Jadi Ancaman Kematian Terbesar Selain Pandemi, Pelonggaran Lockdown Kembali Disorot
Dunia

Perubahan iklim kembali menjadi sorotan dalam Sidang Umum PBB beberapa waktu lalu. Dikatakan bahwa sejumlah negara kepulauan terancam tenggelam jika perubahan iklim terus terjadi.

WowKeren - Pandemi virus corona (COVID-19) memang tengah menjadi ancaman menakutkan yang telah membunuh lebih dari 1 juta jiwa di seluruh dunia. Akan tetapi, COVID-19 bukanlah satu-satunya ancaman mematikan bagi dunia saat ini. Pasalnya, perubahan iklim yang kembali terjadi akibat pelonggaran lockdown di sejumlah negara dinilai tak kalah mengkhawatirkan dibandingkan pandemi.

Perubahan iklim kembali menjadi sorotan setelah Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa beberapa waktu lalu. Meski COVID-19 mendominasi topik kepala negara dalam sidang tersebut, namun sejumlah negara mencoba tetap menyinggungnya. Terutama negara-negara kepulauan yang terancam tenggelam jika perubahan iklim terus terjadi.

"Dalam 75 tahun lagi, banyak anggota mungkin tidak lagi memegang kursi di Perserikatan Bangsa-Bangsa jika dunia terus berada di jalurnya saat ini," kata Aliansi Negara-negara Pulau Kecil dan Kelompok Negara-Negara Terbelakang.

Sementara negara kepulauan Pasifik Palau tidak memiliki satu pun kasus infeksi COVID-19, tetapi Presiden Tommy E. Remengesau Jr. memperingatkan, bahwa naiknya air laut yang akan menurunkan negara itu. "Penurunan sesaat dalam emisi (karbon) tahun ini tidak dapat dibiarkan untuk membuat berpuas diri tentang kemajuan global," katanya.

Remengesau mencoba mengacu pada warna langit yang lebih cerah setelah penguncian untuk memperlambat penyebaran virus di seluruh dunia. Polusi telah merayap kembali seiring pelonggaran pembatasan. Dia pun menyoroti, kekuatan dunia tidak dapat mengabaikan komitmen mengalirkan dana untuk memerangi perubahan iklim selama pandemi, bahkan ketika ekonomi terpukul.


Perdana Menteri Tuvalu, Kausea Natano, menyampaikan bahwa negaranya bebas dari virus corona namun berhadapan dengan siklon tropis, badai yang menurut para ilmuwan kemungkinan akan menjadi lebih basah saat planet memanas. Titik tertinggi Tuvalu hanya beberapa meter di atas permukaan laut.

Natano kemudian menyinggung efek pandemi pada pergerakan barang menjadi terancam sehingga terjadi kerawanan pangan. Padahal, kondisi pertanian lokal menjadi lebih sulit dengan naiknya permukaan laut.

"Sementara COVID-19 adalah krisis langsung kami, perubahan iklim tetap menjadi ancaman terbesar bagi mata pencaharian, keamanan dan kesejahteraan Pasifik dan rakyatnya dalam jangka panjang," kata Natano.

Permohonan mendesak juga datang dari Afrika, yang berkontribusi paling sedikit terhadap pemanasan global tetapi paling menderita karenanya. "Dalam mendukung solusi berdasarkan penghormatan terhadap alam, kami juga menjaga kesehatan masyarakat kami," kata Presiden Nigeri, Issoufou Mahamadou, menyinggung wilayah bagian dari Sahel di selatan gurun Sahara ini mengalami kenaikan suhu dengan perkiraan 1,5 kali lebih tinggi dari rata-rata dunia.

Sebuah studi baru menemukan bahwa jika dunia menghangat lagi 0,9 derajat Celcius, lapisan es Antartika Barat akan mencapai titik pencairan yang tidak dapat diubah. Ini membuat cukup air untuk menaikkan permukaan laut global hingga lima meter. Bukan hanya itu, Siberia juga melaporkan mengalami suhu terhangat tahun ini dan bongkahan es yang sangat besar di Greenland dan Kanada luruh ke laut.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts