DNA Manusia Purba Disebut Bisa Perburuk Kondisi COVID-19 di Tubuh Orang Modern
AP Photo/John Minchillo
Dunia

Sepanjang perjalanan sejarah, diketahui jika manusia modern dan Neanderthal telah melangsungkan perkawinan yang menghasilkan pertukaran gen yang dapat ditemukan hingga sekarang.

WowKeren - Berbagai penelitian terus dilakukan untuk menguak segala hal tentang virus corona. Pandemi baru ini telah sukses "mengubah" dunia dari berbagai sektor.

Untuk itu, manusia perlu bergegas untuk menemukan kelemahan virus ini guna menekan dampak pandemi yang lebih buruk. Salah satu studi terkini membahas mengenai keterkaitan antara gen manusia purba dengan tingkat keparahan gejala COVID-19.

Studi yang dilakukan oleh para ilmuwan di Eropa tersebut mengatakan gen yang diwarisi beberapa orang dari nenek moyang Neanderthal dapat meningkatkan kemungkinan mereka menderita gejala COVID-19 yang lebih parah. Studi tersebut diterbitkan pada Rabu pekan lalu di jurnal Nature.

Para ilmuwan meneliti sejumlah gen yang diduga berkaitan dengan risiko rawat inap yang lebih tinggi dan kegagalan pernapasan pada pasien yang terinfeksi virus corona baru. Peneliti Hugo Zeberg dan Svante Paabo menetapkan bahwa gen tersebut termasuk dalam suatu kelompok, atau haplotipe, yang kemungkinan besar berasal dari Neanderthal.


Sementara itu, Haplotipe bisa ditemukan tak hanya pada populasi di Eropa, namun juga belahan Asia tertentu. Kelompok gen ini terdapat pada sekitar 16 persen populasi di Eropa dan setengah populasi di Asia Selatan.

Sepanjang perjalanan sejarah, diketahui jika manusia modern dan Neanderthal telah melangsungkan perkawinan yang menghasilkan pertukaran gen. Hasil pertukaran gen masih dapat ditemukan hingga sekarang. Sementara itu, gen merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi risiko COVID-19 termasuk usia, jenis kelamin, dan kondisi yang sudah ada sebelumnya seperti obesitas, diabetes, dan masalah jantung.

Zeberg dan Paabo mencatat prevalensi kelompok gen Neanderthal tertentu paling tinggi terdapat pada orang-orang dari Bangladesh. 63 persen dari mereka diperkirakan membawa salinan haplotipe tersebut.

Berdasarkan studi yang dilakukan di Inggris, menunjukkan jika orang keturunan Bangladesh memiliki risiko kematian akibat COVID-19 sekitar dua kali lebih tinggi daripada populasi umum.

"Sangat mengejutkan bahwa warisan genetik dari Neanderthal memiliki konsekuensi yang tragis selama pandemi saat ini," kata Paabo dalam sebuah pernyataan. "Itulah mengapa hal ini harus diselidiki secepat mungkin."

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait