Terjadi pertambahan kasus COVID-19 di Kota Paris, Prancis, yang membuat otoritas setempat menutup kafe dan kelab malam selama dua pekan demi menekan penyebaran virus corona.
- Nidya Putri
- Selasa, 06 Oktober 2020 - 12:22 WIB
WowKeren - Pemerintah Kota Paris, Prancis, mengumumkan untuk menutup kafe dan kelab malam selama dua pekan demi menekan potensi gelombang kedua pandemi virus corona. Kepala polisi Paris, Didier Lallemant mengatakan penutupan bar dianggap oleh sebagian orang sebagai langkah pengereman untuk menekan penyebaran virus.
Dilansir AFP, restoran akan tetap diizinkan buka selama menerapkan protokol kesehatan, termasuk menyediakan gel pencuci tangan, mengharuskan pengunjung pakai masker dan menjaga jarak antar kursi satu meter. Di Prancis sendiri saat ini telah mencatat nyaris 17 ribu kasus baru COVID-19 hingga Sabtu (3/10) lalu.
Bahkan wilayah Ile-de-France ditempatkan dalam tingkat kewaspadaan maksimum dan masuk zona merah COVID-19 sejak akhir pekan lalu. Paris sendiri menjadi salah satu dari tiga kota yang ditetapkan Kementerian Kesehatan untuk menentukan tingkat risiko terkait penyebaran virus corona.
Selain Prancis, negara Eropa lainnya juga mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang kedua COVID-19. Eropa saat in mencatat lebih dari 6 juta kasus dan 235.553 kematian.
Pemerintah Irlandia tengah mempertimbangkan untuk memberlakukan penguncian nasional setelah ada lonjakan kasus baru. Tim Darurat Kesehatan Masyarakat Nasional merekomendasikan agar seluruh negara kembali memberlakukan pembatasan seperti saat penguncian awal pada Maret lalu.
Sementara itu, Spanyol memutuskan untuk lockdown parsial dua kota dengan kasus corona tertinggi yakni Leon dan Valencia. Sebelumnya pemerintah Spanyol juga memberlakukan larangan bagi warga Madrid dan sembilan kota di sekitarnya untuk meninggalkan bats kota, selain untuk keperluan kerja, sekolah, atau medis dan hukum selama dua pekan
Berbeda dengan negara Eropa lain, Rusia justru tidak berencana memberlakukan kembali penguncian kendati ada tambahan 10.888 kasus baru pada Minggu (4/10). Sementara pemerintah Inggris mulai meluncurkan langkah-langkah baru yang membatasi kontak sosial di beberapa wilayah. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan tidak meragukan lagi bahwa negaranya sekarang akan menghadapi gelombang kedua.
(wk/nidy)