Jumlah Pemilih Awal di Pemilu AS Melonjak Drastis Usai Trump Dinyatakan Terpapar COVID-19
Reuters
Dunia

Jumlah pemilih total dalam pemilu Amerika Serikat diprediksi mencapai 150 juta orang, mewakili 65 persen dari daftar pemilih, atau persentase tertinggi sejak pemilu 1908 silam.

WowKeren - Berselang kurang dari sebulan sebelum Pemilihan Umum Presiden AS digelar pada 3 November mendatang, tercatat ada lebih dari 3,8 juta warga yang memanfaatkan hak pilih mereka. Menurut data dari lembaga penyedia data pemilu Elections Project, 3,8 juta pemilih awal tersebut tercatat 75 ribu suara lebih banyak dibandingkan periode yang sama pada pemilu 2016.

Lonjakan jumlah suara lebih dini menggambarkan kemungkinan capaian rekor jumlah pemilih dalam pertarungan politik antara kandidat pejawat Donald Trump dan lawannya dari Partai Demokrat, Joe Biden. Tak hanya itu, lonjakan ini terjadi setelah Trump dilaporkan positif terinfeksi COVID-19 pada akhir pekan lalu.

Menurut Michael McDonald dari Universitas Florida, kenaikan suara yang masuk lebih dini dipengaruhi oleh perluasan sistem pemungutan suara awal dan melalui layanan pos di banyak negara bagian atas pertimbangan cara aman memilih di tengah situasi pandemi COVID-19.

McDonald, yang mengelola Elections Project, juga menyebut bahwa muncul keinginan publik untuk ikut serta dalam menentukan masa depan politik Trump. "Kita tak pernah melihat orang sebanyak ini memberikan hak suara jauh hari sebelum pemilu. Masyarakat memilih ketika mereka memutuskan, dan kita tahu bahwa banyak orang telah memutuskan sejak lama dan sudah mempunyai penilaian tentang Trump," kata McDonald, sebagaimana dikutip dari Republika.


Dengan angka pemilih awal yang tinggi itu, McDonald memprediksi jumlah pemilih total nantinya mencapai 150 juta orang, mewakili 65 persen dari daftar pemilih, atau persentase tertinggi sejak pemilu 1908 silam.

Jumlah 3,8 juta lebih suara yang sudah masuk itu sejauh ini datang dari 31 negara bagian. Jumlah itu akan bertambah cepat dalam beberapa pekan ke depan, karena lebih banyak negara bagian menggelar pemungutan suara awal dan via surat (mail in).

Sedangkan jumlah pemilih yang memberikan hak suara lewat secara langsung pada hari pemungutan suara 3 November sudah mengalami penurunan sebelum pemilu tahun ini. Angka total suara masuk lewat pemungutan suara awal atau via surat telah bertambah lebih dari dua kali lipat, dari hampir 25 juta pada 2004 menjadi 57 juta suara pada 2016.

Trump telah berulang kali memprotes sistem pemungutan suara via surat. Ia menyebut sistem seperti itu akan mengarah pada kecurangan. Namun, para pakar menilai kecurangan justru jarang terjadi.

Di sisi lain, pilpres AS akan digelar pada 3 November mendatang. Duet petahana Donald Trump dan Mike Pence akan berhadapan dengan pasangan capres-cawapes Joe Biden dan Senator Kamala Harris yang diusung dari Partai Demokrat. Satu kandidat lagi adalah Jo Jorgensen yang diusung Partai Libertarian.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait