Pengumuman ini disampaikan setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengundang para Menlu Armenia dan Azerbaijan untuk mengunjungi Moskow demi melakukan pembicaraan damai.
- Luthfiatun Nisa
- Sabtu, 10 Oktober 2020 - 14:48 WIB
WowKeren - Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, mengatakan bahwa Armenia dan Azerbaijan sepakat untuk memulai perundingan di wilayah Nagorno-Karabakh serta menghentikan pertempuran. Pengumuman tersebut disampaikan pada Sabtu (10/10) waktu setempat.
"Azerbaijan dan Armenia memulai perundingan substantif dengan tujuan mencapai penyelesaian damai secepat mungkin," kata Lavrov, sebagaimana dilansir dari CNN.
Lavrov menambahkan bahwa pembicaraan seperti itu akan dimediasi oleh perundingan internasional Kelompok Minsk. Selain itu, Lavrov juga mengatakan bahwa Armenia dan Azerbaijan sepakat untuk menghentikan pertempuran di wilayah Nagorno-Karabakh yang memisahkan diri mulai siang hari 10 Oktober.
"Gencatan senjata diumumkan dari jam 12:00 pada 10 Oktober dengan alasan kemanusiaan," kata Lavrov, membacakan dari sebuah pernyataan.
Sedangkan juru bicara kementerian luar negeri Rusia Maria Zakharova mengonfirmasi secara terpisah bahwa gencatan senjata akan dimulai pada Sabtu siang.
Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin telah mengundang para Menteri Luar Negeri Armenia dan Azerbaijan untuk mengunjungi Moskow demi melakukan pembicaraan damai dalam mengakhiri konflik. Undangan tersebut disampaikan Putin sebagai upaya untuk menghentikan pertempuran di Nagorno-Karabakh demi alasan kemanusiaan.
Undangan Putin ini datang karena tampaknya tak ada kemungkinan pertempuran dari kedua belah pihak akan berakhir. "Menteri Luar Negeri Azerbaijan dan Armenia diundang ke Moskow pada 9 Oktober," kata Putin dalam pernyataan yang dirilis oleh Kremlin.
"Presiden Rusia mengeluarkan seruan untuk menghentikan pertempuran di Nagorno-Karabakh atas dasar kemanusiaan untuk menukar mayat dan tahanan," tambah Kremlin.
Nagorno-Karabakh sendiri merupakan bagian wilayah Azerbaijan yang dihuni oleh mayoritas etnis Armenia. Sejarah konflik dua pihak yang berada di wilayah Kaukasus ini sudah terjadi sejak perang Nagorno-Karabakh pada 1980 hingga 1994.
Usai keruntuhan Uni Soviet, wilayah ini memproklamasikan kemerdekaannya pada 1991. Namun, itu tak diakui dunia internasional. Referendum kemudian dilakukan pada 2017 dengan mayoritas mendorong kemerdekaan. Negara-negara besar pun kembali tak mengakui hasilnya. Hanya kepada Armenia Karabakh bergantung.
Perundingan berlarut-larut yang dimediasi negara-negara besar hingga kini tetap tak menemui hasil signifikan. Gencatan senjata antara Karabakh dengan Azerbeijan terakhir terjadi pada 1994.
Sementara itu, bentrokan di perbatasan Armenia dan Azerbaijan meletus pada Minggu (27/9) pagi waktu setempat setelah pasukan Armenia menargetkan pemukiman sipil dan posisi militer Azerbaijan.
Kementerian Pertahanan Azerbaijan mengatakan Armenia sekali lagi membuktikan bahwa mereka adalah hambatan terbesar bagi perdamaian dan stabilitas di kawasan dan menambahkan bahwa Turki akan mendukung Azerbaijan dengan segala cara. "Baku memiliki hak pertahanan diri untuk melindungi rakyat dan wilayahnya," tegas kementerian pertahanan Azerbaijan.
(wk/luth)