Sejumlah Negara Terapkan 'Swiss Cheese Model' Untuk Tekan COVID-19, Apa Itu?
Health
Pandemi Virus Corona

Sejumlah negara di dunia terus melakukan upaya pencegahan untuk menekan lonjakan kasus COVID-19. Salah satunya dengan alternatif Swiss Cheese Model, apa itu?

WowKeren - Sejumlah negara di dunia saat ini tengah menghadapi gelombang kedua COVID-19. Bahkan di benua Eropa dan Amerika diharapkan untuk waspada apabila wabah COVID-19 kian memburuk menjelang musim dingin.

Pemerintah di sejumlah negara pun tengah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi lonjakan kasus COVID-19 tanpa harus melakukan lockdown yang artinya mengorbankan perekonomian negara. Baru-baru ini para ahli kesehatan publik pun mengingatkan bahwa kombinasi dari berbagai alternatif tindakan dapat mengurangi beban tersebut.

Salah satu alternatif yang diperkenalkan baru-baru ini adalah Swiss Cheese Model. Apa itu?

Pemodelan ini menggunakan lapisan keju untuk menggambarkan bagaimana intervensi satu dengan yang lainnya bekerja bersama untuk mencegah penyebaran virus lebih luas, termasuk jarak fisik, penggunaan masker, cuci tangan, dan disinfeksi. Setiap langkah tersebut digambarkan sebagai penghalang tidak sempurna dari transmisi virus corona dengan lubang yang ada di setiap lapisan keju.

Dikutip dari Global News, saat intervensi dikombinasikan seperti tumpukan lapisan keju Swiss, beberapa lubang di dalamnya dapat ditutup. Kondisi ini menggambarkan kemungkinan penularan virus menurun atau bahkan terhenti.

Beberapa virus mungkin dapat lewat melalui lubang keju tersebut, tetapi kemungkinannya lebih rendah jika setiap lapisan tersusun dengan baik. "Keindahan dari model ini adalah bahwa ia memperlihatkan kekuatan dan kelemahan dari tiap-tiap intervensi," kata Epidemiolog Pengendalian Infeksi dan Asisten Profesor di University of Toronto, Colin Furness.

Menurutnya, model ini menunjukkan bahwa jika variasi intervensi dilakukan, harus disusun dan dijalankan bersama agar efektif.


Swiss Cheese Model sendiri sudah ada sejak lama. Pemodelan ini pertama kali dibuat pada 1990 oleh seorang Profesor di Manchester University, James Reason.

Saat ini, pemodelan tersebut telah digunakan secara luas dalam berbagai bidang, mulai dari perawatan kesehatan, manajemen risiko, teknik, hingga penerbangan. Adapun Swiss Cheese Model untuk pencegahan penyebaran virus corona diadaptasi oleh seorang Virolog Australia, Ian M. Mackay.

Dalam adaptasi pemodelan terbarunya (versi 3), ada 10 lapisan yang dikombinasikan sebagai pertahanan terhadap pandemi virus pernapasan tersebut. Sebanyak 10 lapisan tersebut dibagi menjadi dua, yaitu tanggung jawab pribadi dan tanggung jawab yang terbagi-bagi.

Ada 5 lapisan pertama terkait tanggung jawab pribadi, seperti: Tinggal di rumah jika sakit; Penggunaan masker; Higienitas dan tata cara atau adab batuk; Hindari menyentuh wajah.

Sementara, 5 lapisan kedua terkait tanggung jawab yang terbagi (shared responsibilities) yang terdiri atas: Tes dan penelusuran yang cepat dan sensitif; Ventilasi, outdoor, filtrasi udara; Komunikasi pemerintah dan dukungan finansial; Karantina dan isolasi; Vaksin.

Dilansir Cleveland Clinic, adaptasi model juga telah dilakukan untuk meminimalisir risiko penyebaran virus corona di tempat kerja melalui penggunaan masker, jarak fisik, pembersihan dan disinfeksi, serta mencuci tangan.

Tak hanya itu, model Swiss Cheese Model ini telah mendapatkan dukungan dari para ahli kesehatan publik di dunia. Mereka menyebut bahwa model ini menggambarkan cara yang efektif tentang bagaimana seseorang dapat membantu melawan penyebaran COVID-19.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts