Macron mengatakan ia dapat memahami jika umat Islam dikejutkan oleh kartun yang dimuat ulang oleh mingguan Charlie Hebdo. Namun, ia tak mentolerir adanya kekerasan.
- Luthfiatun Nisa
- Minggu, 01 November 2020 - 11:59 WIB
WowKeren - Presiden Prancis Emmanuel Macron kembali angkat suara terkait kecaman dunia atas komentar yang ia lontarkan atas penerbitan ulang kartun Nabi Muhammad yang dinilai melukai umat Islam. Macron mengatakan ia dapat memahami jika umat Islam dikejutkan oleh kartun tersebut yang dimuat ulang oleh mingguan Charlie Hebdo.
Hal ini diungkap Macron dalam wawancara dengan saluran TV yang berbasis di Qatar, Al-Jazeera, untuk meredakan kemarahan umat Islam. Dalam wawancara itu, Macron memberikan pemaparan mengenai maksud ucapan sebelumnya dengan nada yang lebih lembut.
"Saya bisa mengerti bahwa orang bisa dikejutkan oleh karikatur itu, tetapi saya tidak akan pernah menerima bahwa kekerasan bisa dibenarkan," katanya, sebagaimana dilansir dari CNN pada Minggu (1/11).
"Saya menganggap itu tugas kami untuk melindungi kebebasan kami dan hak-hak kami," tambahnya.
Macron memang menjadi sorotan dunia karena menyebut Islam tengah mengalami krisis. Dia juga menuding Islam bertekad mengubah nilai-nilai liberalisme dan sekularisme di Prancis.
Kisruh ini bermula setelah majalah satire Prancis, Charlie Hebdo, mengumumkan menerbitkan ulang kartun Nabi Muhammad pada September lalu. Penerbitan ulang dilakukan untuk menandai dimulainya persidangan penyerangan kantor mereka terkait karikatur itu pada 7 Januari 2015 silam.
Ketika itu, 12 orang termasuk beberapa kartunis terkemuka, tewas dalam serangan yang dilakukan dua bersaudara, Said dan Cherif Kouachi, di kantor Charlie Hebdo, Paris.
Sejumlah politikus Prancis, terutama partai sayap kanan Front Nasional pimpinan Marine Le Pen, mendukung penerbitan karikatur itu serta menghubungkan aksi teror dengan ajaran Islam dan menyuarakan ujaran anti-Islam. Sementara, Presiden Macron menyatakan tidak bisa mencampuri keputusan redaksional majalah dengan dalih kebebasan berekspresi.
Selain itu, ada insiden pemenggalan guru sejarah, Samuel Paty, oleh Abdoullakh Abouyezidovitch, seorang remaja berusia 18 tahun yang merupakan pendatang dari Chechnya. Guru sekolah menengah itu disebut sempat menggelar diskusi soal kartun Nabi Muhammad dengan para muridnya. Pelaku kemudian ditembak mati polisi.
Macron menganggap Paty adalah martir yang mengusung kebebasan berpendapat dan pelaku adalah seorang radikal Muslim. Ia pun menindaklanjuti insiden ini dengan perintah pengawasan terhadap ormas Islam Prancis dan menutup sejumlah masjid yang mencurigakan.
Setelah insiden itu Macron berpendapat tentang, "Dibunuh karena para umat muslim menginginkan masa depan kita". Sejak itu Macron mendapat kritik dari berbagai pihak.
(wk/luth)