Serikat pekerja di Spanyol mengatakan penambahan tenaga kerja dibutuhkan guna mencegah terjadinya penundaan penguburan jenazah yang sempat terjadi saat gelombang pertama
- Zodiak Yanuarita
- Senin, 02 November 2020 - 14:20 WIB
WowKeren - Eropa saat ini tengah menghadapi gelombang kedua pandemi COVID-19. Jumlah kasus kematian akibat corona dilaporkan terus mengalami kenaikan.
Namun di Spanyol, para petugas pemakaman justru melakukan aksi mogok kerja. Mereka menuntut penambahan staf mengingat jumlah kematian akibat COVID-19 terus meningkat.
Dilansir BBC Indonesia, Senin (2/11), serikat pekerja mengatakan jika penambahan tenaga kerja amat dibutuhkan guna mencegah terjadinya penundaan penguburan jenazah. Hal serupa sebelumnya pernah terjadi saat gelombang pertama pandemi menyerang Spanyol Maret lalu.
Akibat melonjaknya kasus COVID-19, sejumlah negara di Eropa telah memberlakukan aturan baru, mulai dari memberlakukan jam malam hingga karantina wilayah. Langkah ini diambil guna menekan angka penyebaran COVID-19.
Aksi mogok kerja tersebut dilakukan pada Minggu (1/11). Para pekerja di rumah duka seluruh Spanyol turut serta dalam aksi ini. Salah satu rumah duka di Madrid, mengatakan perlu sekitar 15-20 pekerja untuk menangani lonjakan kematian. Pada Jumat (30/10) lalu, menteri kesehatan mengkonfirmasi kematian 239 orang karena virus corona.
Saat gelombang pertama pandemi Maret lalu, penguburan jenazah mengalami penundaan sekitar seminggu. bahkan proses kremasi dilakukan di kota-kota yang jauhnya ratusan mil. Hal ini disebabkan karena rumah duka berjuang untuk memenuhi banyaknya permintaan.
Sementara itu sejak pandemi menyerang, Spanyol telah mencatat lebih dari 1,1 juta kasus positif COVID-19. Berdasarkan data Universitas Johns Hopkins, negara ini telah melaporkan 35.800 kematian akibat pandemi.
Sementara itu, Italia tengah berupaya mempercepat persiapan untuk memberlakukan pengetatan lebih lanjut tentang aturan pembatasan. Menteri Kesehatan, Roberto Speranza, menilai jika karantina wilayah menjadi satu-satunya cara untuk menurunkan kapasitas bangsal rumah sakit yang kian penuh. Masih dilansir BBC Indonesia, Speranza mengatakan pada media setempat jika kurva penularan di negaranya menunjukkan kenaikan yang mengerikan.
Secara garis besar di Eropa, pembatasan sudah dilakukan di sejumlah negara. Bioskop, kolam renang, teater, hingga pusat kebugaran telah ditutup. Namun untuk pertokoan dan sejumlah sektor bisnis masih tetap beroperasi.
(wk/zodi)