Presiden Prancis Klarifikasi Pernyataannya Usai Dituding Hina Islam, Sebut Ada Kesalahpahaman
Reuters
Dunia

Terkait hal ini, analis politik senior mengatakan pernyataan Macron menjadi upaya untuk mengklarifikasi posisinya dalam masalah yang penting bagi Prancis dan dunia Muslim.

WowKeren - Dalam upaya untuk memperbaiki apa yang ia katakan sebagai kesalahpahaman tentang pernyataannya yang dinilai menyudutkan umat Muslim, Presiden Prancis Emmanuel Macron memberikan klarifikasi dalam wawancara dengan Al Jazeera. Dalam wawancara tersebut, Macron berusaha menjelaskan kondisi negaranya dan juga perannya sebagai pemimpin negara.

"Saya memahami sentimen yang diungkapkan dan saya menghormati mereka (umat Islam). Namun, Anda juga harus memahami peran saya sekarang, mempromosikan ketenangan dan juga melindungi hak-hak ini (kebebasan berbicara)," kata Macron.

Macron lantas mengaku bahwa ia akan selalu membela negaranya akan prinsip kebebasan berbicara, menulis, berpikir, serta menggambar. Meskipun, kini ia menyadari pembelaannya terhadap karikatur Nabi Muhammad telah membuat marah umat Muslim di seluruh dunia.

Karikatur itu, ujar Macron, bukan proyek pemerintah tapi muncul dari surat kabar bebas dan independen yang tidak berafiliasi dengan pemerintah. Namun Macron membela penerbitan ulang karikatur tersebut yang menandai pembukaan persidangan atas serangan mematikan terhadap staf majalah Charlie Hebdo pada 2015 lalu, ketika kartun Nabi Muhammad dipublikasikan pertama kali di Paris.

"Saat ini di dunia ada orang yang mendistorsi Islam dan atas nama agama yang mereka klaim untuk dibela, mereka membunuh, mereka membantai. Hari ini ada kekerasan yang dilakukan oleh beberapa gerakan ekstremis dan individu atas nama Islam," imbuh Macron.


"Tentu ini menjadi masalah bagi Islam karena umat Islam adalah korban pertama," imbuhnya melanjutkan.

Terkait wawancara ini, analis politik senior Marwan Bishara mengatakan komentar Macron tampaknya menjadi upaya untuk mengklarifikasi posisinya dalam masalah yang penting bagi Prancis dan dunia Muslim.

"Tidak ada yang menjadi pemenang dan jika ada yang kalah akan ada banyak Muslim di Eropa. Jadi, menjadi kepentingan semua orang jika presiden Prancis tulus tentang kontekstualisasi dan tentang mundur beberapa hal yang dia katakan - bahwa dia sekarang mengerti dengan jelas bahwa hal itu kontroversial dan dia tidak bermaksud mengkritik Islam sebagai agama - yang seharusnya mulai meningkatkan suasana antara Prancis, Eropa, dan dunia Muslim," tuturnya.

Kisruh ini bermula setelah majalah satire Prancis, Charlie Hebdo, mengumumkan menerbitkan ulang kartun Nabi Muhammad pada September lalu. Penerbitan ulang dilakukan untuk menandai dimulainya persidangan penyerangan kantor mereka terkait karikatur itu pada 7 Januari 2015 silam.

Ketika itu, 12 orang termasuk beberapa kartunis terkemuka, tewas dalam serangan yang dilakukan dua bersaudara, Said dan Cherif Kouachi, di kantor Charlie Hebdo, Paris.

Sejumlah politikus Prancis, terutama partai sayap kanan Front Nasional pimpinan Marine Le Pen, mendukung penerbitan karikatur itu serta menghubungkan aksi teror dengan ajaran Islam dan menyuarakan ujaran anti-Islam. Sementara, Presiden Macron menyatakan tidak bisa mencampuri keputusan redaksional majalah dengan dalih kebebasan berekspresi.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait