Sindir Macron, Mantan Presiden Prancis Sebut Umat Islam Tak Boleh Disamakan dengan Teroris
Getty Images
Dunia

Mantan Presiden Francois Hollande turut menyoroti serangkaian serangan yang terjadi di kota Nice, Avignon dan Lyon, dan Konsulat Prancis di Jeddah, Arab Saudi.

WowKeren - Mantan Presiden Prancis, Francois Hollande, rupanya turut buka suara terkait serangan mematikan di Gereja Notre-Dame yang menewaskan tiga orang. Sebagaimana diketahui, pernyerangan tersebut dinilai sebagai buntut dari pernyataan kontroversial Presiden Emmanuel Macron yang dianggap menyudutkan umat Islam.

Hollande menyoroti serangkaian serangan yang terjadi pada Kamis di kota-kota Prancis Nice, Avignon dan Lyon, dan Konsulat Prancis di Jeddah, Arab Saudi. Dengan tegas, Hollande mengklaim bahwa Umat Islam tidak boleh disamakan dengan para teroris.

"Para teroris Islamis ini ingin menciptakan perang antaragama," kata Hollande. "Jangan samakan antara teroris ini dengan Muslim. Itu akan menjadi kesalahan yang akan menjerumuskan kita ke dalam konflik yang tidak ingin kita sentuh," imbuhnya.

Kisruh di Prancis sendiri kini tengah menjadi sorotan global. Kisruh ini bermula setelah majalah satire Prancis, Charlie Hebdo, mengumumkan menerbitkan ulang kartun Nabi Muhammad pada September lalu. Penerbitan ulang dilakukan untuk menandai dimulainya persidangan penyerangan kantor mereka terkait karikatur itu pada 7 Januari 2015 silam.

Ketika itu, 12 orang termasuk beberapa kartunis terkemuka, tewas dalam serangan yang dilakukan dua bersaudara, Said dan Cherif Kouachi, di kantor Charlie Hebdo, Paris.


Sejumlah politikus Prancis, terutama partai sayap kanan Front Nasional pimpinan Marine Le Pen, mendukung penerbitan karikatur itu serta menghubungkan aksi teror dengan ajaran Islam dan menyuarakan ujaran anti-Islam. Sementara, Presiden Macron menyatakan tidak bisa mencampuri keputusan redaksional majalah dengan dalih kebebasan berekspresi.

Tak hanya itu, Emmanuel Macron menyebut Islam tengah mengalami krisis. Dia juga menuding Islam bertekad mengubah nilai-nilai liberalisme dan sekularisme di Prancis. Hal ini membuatnya menuai kecaman dari banyak pihak, termasuk negara-negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam.

Sementara itu, saat ini Prancis juga mengalami sejumlah serangan teror. Sebelumnya, seorang guru bernama Samuel Paty dipenggal kepalanya usai menunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelas yang ia ajar. Kemudian ada pula tiga warga di dalam gereja Notre-Dame di Nice yang dibunuh oleh pria asal Tunisia.

Tak sampai di sana, akhir pekan lalu seorang pendeta Ortodoks Yunani mengalami luka-luka setelah ditembak penyerang misterius di kota Lyon, Prancis. Pendeta bernama Nikolaos Kakavelaki diserang saat ia tengah menutup gerejanya pada Sabtu (31/10) waktu setempat.

Terkait serangan ini, Menteri Dalam Negeri Prancis Gerard Darmanin mengumumkan penambahan 3.500 pasukan keamanan cadangan dan 3.500 polisi tambahan untuk berjaga. Setidaknya 120 petugas polisi tambahan akan dikerahkan di Nice untuk menjaga keamanan.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts