Hasil Pilpres ini nantinya, tak hanya akan berdampak pada masyarakat di sana namun juga seluruh dunia tak terkecuali Indonesia mengingat AS merupakan negara adidaya.
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 04 November 2020 - 15:37 WIB
WowKeren - Hari ini, publik Amerika Serikat tengah memanfaatkan hak pilih mereka untuk menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin baru berikutnya. Dalam Pilpres AS kali ini, Donald Trump dari Partai Republik dan Joe Biden dari Partai Demokrat tengah berkontestasi.
Hasil Pilpres ini nantinya, tak hanya akan berdampak pada masyarakat di sana namun juga seluruh dunia tak terkecuali Indonesia. Hal ini mengingat Amerika Serikat merupakan negara adidaya.
Ekonom Bank Permata Josua Pardede membeberkan prediksi dampak hasil Pilpres AS terhadap perekonomian Indonesia. Mulanya ia berbicara mengenai sisi kebijakan manufaktur, baik Biden maupun Trump cenderung menekankan prioritas AS terhadap manufaktur domestik.
Selain itu, kesamaan antara Trump dan Biden terlihat pada sentimen terkait invasi produk dari Tiongkok. Menurut mereka produk Tiongkok justru akan menghalangi aktivitas manufaktur.
"Keduanya menganggap bahwa produk dari Tiongkok mengganggu aktivitas manufaktur di AS," kata Josua dilansir Okezone, Rabu (4/11). "Khusus Biden, akan cenderung menekan Tiongkok melalui protokol multilateral, dan tidak menekankan pada kebijakan tarif, meskipun tidak disebutkan pula bahwa ia akan menunda kebijakan tarif AS."
Untuk Indonesia, kerja sama dengan negara yang dekat dengan AS harus lebih diperkuat. Sehingga nantinya selain Tiongkok, kerja sama dengan AS dan negara lain bisa membaik.
"Dengan kebijakan dagang keduanya yang masih cenderung menganggap Tiongkok sebagai kompetitor, maka diperkirakan pengenaan kebijakan dagang kepada Tiongkok tidak banyak berubah."
Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan jika Biden yang terpilih, maka ia akan memilih pendekatan yang lebih lunak. Sehingga bukan tidak mungkin tensi dagang yang selama ini bergejolak akan cenderung lebih kalem dibandingkan saat kepemimpinan Trump. Alhasil, menurunnya tensi dagang juga akan membawa angin segar pada stabilitas pasar keuangan global. "Kedua hal ini akan menguntungkan ekspor dan nilai tukar Indonesia," katanya.
Selain itu, melemahnya tensi dagang akan membuat investor Tiongkok berhenti merelokasi pabriknya ke negara lain. "Hal ini kemudian berpotensi menghambat arus aliran FDI di Indonesia," tandasnya.
(wk/zodi)