Trump tampaknya enggan menerima peluang kekalahan tersebut. Tak hanya itu, ia menuding jika Pemilu kali ini berjalan curang. Tentu saja, tim kampanye Biden tak tinggal diam
- Zodiak Yanuarita
- Sabtu, 07 November 2020 - 15:54 WIB
WowKeren - Pemilihan Presiden Amerika Serikat kali ini cukup menyita perhatian dunia. Penghitungan suara sejauh ini masih menempatkan capres dari Partai Demokrat, Joe Biden, unggul secara perolehan electoral votes dari petahana, Donald Trump.
Trump tampaknya enggan menerima peluang kekalahan tersebut. Tak hanya itu, ia menuding jika Pemilu kali ini berjalan curang. Tentu saja, tim kampanye Biden tak tinggal diam. Mereka memperingatkan Trump bisa dikawal keluar dari Gedung Putih jika tetap kukuh tidak mengakui kekalahannya.
"Seperti yang kami katakan pada 19 Juli, rakyat Amerika akan memutuskan pemilihan ini," kata juru bicara tim kampanye Biden, Andrew Bates dilansir Independent, Sabtu (7/11). "Dan pemerintah Amerika Serikat sangat mampu mengawal penyusup keluar dari Gedung Putih."
Pada Jumat pekan ini, Biden berhasil memimpin perolehan suara di wilayah penting yakni Georgia dan Pennsylvania, yang hingga kini proses penghitungan suara masih berlangsung. Kemenangan ini turut menjadi modal penting bagi Biden untuk mendapatkan 270 suara electoral college yang diperlukan untuk menjadi presiden terpilih.
Sementara itu, melalui pernyataannya di Gedung Putih pada Rabu (4/11), Trump sempat mendeklarasikan diri sebagai pemenang di tengah penghitungan suara yang masih berlangsung. "Kekacauan" yang terjadi selama Pilpres AS turut menyita perhatian sejumlah media di luar AS.
Di Tiongkok misalkan. Media CCTV, menyiarkan laporan video yang berfokus pada ketakutan akan kekerasan pascapemilu. "Ada kekhawatiran mendalam akan kerusuhan yang berkepanjangan," kata laporan itu.
Lalu Di Eropa, surat kabar Italia Corriere della Sera memandang Pemilu di AS sebagai "ujian paling berat untuk demokrasi", yang secara bersamaan menunjukkan "kekuatan sekaligus kelemahan sistem AS" dalam hal partisipasi pemilih yang banyak".
Sementara itu, dilansir dari Reuters, Trump meminta bantuan para pendukungnya dari Partai Republik untuk mau menyumbangkan dana gugatan. Adapun sumbangan yang diminta Trump adalah sebesar USD 60 juta, atau sekitar Rp 847 miliar.
(wk/zodi)