Selama ini, Trump dikenal kerap menggunakan politik identitas. Jika Trump kalah diprediksi pola seperti ini akan bergeser ke strategi yang lebih menyoroti program perekonomian
- Zodiak Yanuarita
- Sabtu, 07 November 2020 - 16:54 WIB
WowKeren - Proses penghitungan suara Pilpres Amerika Serikat hingga kini masih berlangsung. Kendati demikian, perolehan sementara menunjukkan jika Joe Biden unggul dari petahana, Donald Trump.
Pengamat Politik asal Universitas Paramadina, Hendri Satrio memprediksi jika Trump kalah maka juga akan turut berimbas pada strategi politik hingga pola kampanye Pilpres di dunia. Selama ini, Trump dikenal kerap menggunakan politik identitas. Jika Trump kalah, maka tidak menutup kemungkinan jika pola politik seperti ini akan bergeser ke strategi politik yang lebih menyoroti program perekonomian.
"Kalau dari sisi politik, kalau Trump kalah, ini strategi politik, kampanye, Pilpres di dunia akan berubah," kata Hendri dilansir Okezone, Sabtu (7/11). "Yang biasanya mengandalkan politik identitas, ini akan berubah menjadi ke program-program ekonomi ketimbang identitas."
Politik identitas yang digaungkan Trump dapat dilihat dari slogan yang kerap ia pakai selama ini. "Karena Trump kan memainkannya identitas. Identitas sebagai warga negara Amerika, dengan slogannya 'Makes America Great Again'," sambungnya.
Sementara itu terkait Biden, Hendri menyebut jika Capres ini berhasil keluar sebagai pemenang kontestasi Pilpres kali ini nantinya, maka hal itu tak bisa lepas dari partisipasi publik. Sebab seperti diketahui, partisipasi publik dalam Pilpres kali ini ditengarai sebagai yang tertinggi selama satu abad terakhir.
"Kalau Biden menang, ini memang membuat catatan," ujar Hendri. "Bahwa yang namanya partisipasi publik dalam Pilpres ya memang menentukan."
Hendri kemudian mencontohkan ketika Trump berhasil memenangkan Pilpres 2016 lalu. Ia berhasil mengungguli lawannya, Hillary Clinton yang menurut Hendri salah satunya dikarenakan faktor rendahnya partisipasi publik.
"Sehingga, akhirnya Trump bisa menang karena banyak pendukung Hillary yang memasrahkan terhadap kondisi yang ada," ujarnya menambahkan. "Jadi menyerahkan vote kepada warga negara lain."
Alhasil, tak sedikit pendukung Hillary yang justru pasrah akan hasil yang ada. Namun tidak dengan pertarungan Trump-Biden kali ini. "Tapi kali ini partisipasi publiknya tinggi, sehingga bisa menyeimbangi vote," pungkasnya.
(wk/zodi)