Kementerian Kesehatan Rusia menyebutkan bahwa vaksin buatan mereka yang diberi nama Sputnik V juga memiliki efektifivitas hingga 90 persen seperti vaksin asal Amerika Serikat (AS) Pfizer.
- Nidya Putri
- Rabu, 11 November 2020 - 11:34 WIB
WowKeren - Perusahaan farmasi asal Amerika Serikat (AS) Pfizer baru-baru ini mengklaim vaksin virus corona yang mereka kembangkan lebih dari 90 persen efektif dalam mencegah penyakit di antara relawan uji coba yang belum pernah terinfeksi COVID-19 sebelumnya. Pfizer dikethaui mengembangkan vaksin dengan pembuat obat Jerman BioNTech.
Di lain tempat, Rusia telah mengklaim bahwa vaksin COVID-19 buatannya juga efektif hingga 90 persen. Bahkan vaksin yang diberi nama Sputnik V telah disetujui pada Agustus.
Padahal, saat itu uji coba pada manusia belum selesai dilakukan. Hal ini membuat vaksin Rusia menjadi bahan olok-olok di kalangan ilmuwan.
Mereka menyebutnya sebagai vaksin setengah matang. Ada pula yang menganggapnya sedikit lebih unggul daripada air. Sebaliknya, laporan efektivitas vaksin buatan Pfizer yang mencapai 90 persen dianggap sebagai langkah pertama menuju pengembangan vaksin yang efektif.
Hal ini tentu mendapat respon cepat dari Kementerian Kesehatan Rusia. "Kami bertanggung jawab memantau efektivitas vaksin Sputnik V di antara warga yang telah menerimanya sebagai bagian dari program vaksinasi massal. Berdasarkan pengamatan kami, ini juga lebih dari 90 persen," ujar Oksana Drapkina, kepala lembaga penelitian resmi Rusia, dilansir The Sun, Rabu (11/11).
Vaksin Sputnik V juga diklaim akan memberikan kekebalan dari COVID-19 selama dua tahun. Bedanya, Pfizer mengumumkan efektivitas vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan itu didasarkan pada hasil uji coba fase ketiga.
Dosen senior di Unit Riset Kebijakan Sains di Universitas Sussex, Ohid Yaqub menyerukan agar negara-negara lain tidak tertarik pada nasionalisme vaksin seperti yang dibuat Rusia. Ia mengatakan bahwa pengambilan keputusan harus dipublikasikan dan terbuka untuk dicermati. "Belum pernah terjadi sebelumnya untuk sepenuhnya melewatkan uji coba fase 3 seperti ini dalam pengobatan modern," jelas Yaqub.
Francois Balloux, seorang ahli biologi di University College London, Inggris menyebut langkah Rusia sebagai sesuatu yang sembrono dan bodoh. Ia mengatakan bahwa vaksinasi dengan vaksin yang diuji secara tidak tepat adalah tidak etis.
"Masalah apapun dengan kampanye vaksinasi Rusia akan menjadi bencana baik melalui efek negatifnya pada kesehatan, tetapi juga karena itu akan semakin menghambat penerimaan vaksin di masyarakat," kata Balloux.
Sebelumnya, dua uji klinis awal yang dilakukan di Ibu Kota Moskow, Rusia telah diterbitkan bulan lalu dalam jurnal ilmiah The Lancet. Hasilnya, Sputnik V dinyatakan aman dan efektif. Ilmuwan Rusia mengeklaim vaksin itu merangsang respons pada semua pasien yang divaksinasi dan tidak menyebabkan masalah kesehatan yang serius.
Antibodi yang terlihat pada pasien menunjukkan vaksin itu mampu mempersiapkan tubuh untuk melawan COVID-19. Namun, sejumlah ilmuwan independen memperingatkan bahwa uji coba itu terlalu lambat dan masih sangat kecil.
(wk/nidy)