3 Nakes Terinfeksi COVID-19 Meski Sudah Vaksinasi, Efektivitas Sputnik V Dipertanyakan
Dunia

Tiga kasus infeksi COVID-19 yang terjadi pada tenaga kesehatan kembali dilaporkan di wilayah Altai, Siberia, Rusia pada Selasa (10/11). Padahal para nakes tersebut telah divaksinasi dengan Sputnik V.

WowKeren - Tiga kasus infeksi COVID-19 kembali dilaporkan di wilayah Altai, Siberia, Rusia pada Selasa (10/11) kemarin. Mereka yang terinfeksi adalah petugas medis di wilayah Altai yang divaksinasi beberapa minggu lalu dengan Sputnik V, vaksin COVID-19 buatan Rusia.

Seperti yang telah diketahui sebelumnya, 42 petugas medis telah divaksinasi oleh vaksin produksi lembaga penelitian Gamaleya yang berbasis di Moskow pada akhir September lalu dengan kepala ahli epidemiologi regional, Irina Pereladova yang menjadi orang pertama yang mendapat vaksinasi.

Menurut protokol Sputnik V, dosis kedua disuntikkan pada 14 Oktober lalu. Sehari sebelum vaksinasi dilakukan kepada petugas medis melakukan tes COVID-19 dan semuanya menunjukkan hasil negatif.

Dilansir dari Siberian Times, laporan Irina Pereladova mengatakan bahwa para petugas medis berarti terinfeksi COVID-19 dalam waktu 24 jam setelah melakukan uji virus dan sebelum mendapatkan vaksinasi dosis pertama. Tidak ada rincian yang dirilis tentang dokter yang terjangkit COVID-19, tetapi Pereladova mengatakan bahwa pada 10 November semuanya telah pulih.


"Tidak ada vaksin tunggal yang menjamin bahwa seseorang tidak akan terinfeksi, karena mereka mungkin berada dalam masa inkubasi," kata Pereladova. Sputnik V sendiri merupakan vaksin yang dikembangkan oleh lembaga penelitian Gamaleya yang bekerja sama dengan kementerian pertahanan Rusia.

Sebelumnya, Rusia telah mengklaim bahwa vaksin COVID-19 buatannya efektif hingga 90 persen. Tak kalah dengan vaksin buatan Amerika Serikat (AS) Pfizer.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kementerian Kesehatan Rusia. "Kami bertanggung jawab memantau efektivitas vaksin Sputnik V di antara warga yang telah menerimanya sebagai bagian dari program vaksinasi massal. Berdasarkan pengamatan kami, ini juga lebih dari 90 persen," ujar Oksana Drapkina, kepala lembaga penelitian resmi Rusia, dilansir The Sun, Rabu (11/11).

Vaksin Sputnik V juga diklaim akan memberikan kekebalan dari COVID-19 selama dua tahun. Bedanya, Pfizer mengumumkan efektivitas vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan itu didasarkan pada hasil uji coba fase ketiga.

(wk/nidy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait