Perusahaan pengembangan vaksin corona Sanofi mengaku jika vaksin yang dikembangkannya memiliki kelebihan yang tak dimiliki oleh perusahaan farmasi asal Amerika Serikat (AS) Pfizer. Apa itu?
- Nidya Putri
- Senin, 16 November 2020 - 15:43 WIB
WowKeren - Perusahaan farmasi asal Amerika Serikat (AS) Pfizer mengklaim vaksin virus corona (COVID-19) yang mereka kembangkan lebih dari 90 persen efektif dalam mencegah penyakit di antara relawan uji coba yang belum pernah terinfeksi COVID-19 sebelumnya. Klaim tersebut didasarkan pada data awal uji klinis skala besar.
Namun, vaksin Pfizer disebut-sebut memiliki kelemahan dimana perlu disimpan dalam suhu yang benar-benar dingin. Perusahaan harus menyimpan vaksin mereka itu di suhu super rendah, yakni di di minus 94 derajat fahrenheit (-70 derajat celcius).
Artinya, mereka perlu fasilitas lemari es super dingin untuk memenuhi kebutuhan rantai distribusi dingin vaksin-vaksin mereka. Sayangnya, tak semua rumah sakit di dunia punya teknologi yang sama.
Perusahaan pengembangan vaksin corona Sanofi pun turut buka suara terkait hal ini. Mereka mengatakan jika sampel yang mereka kembangkan saat ini tak perlu teknologi lemari es super dingin karena bisa ditaruh di kulkas biasa.
"Vaksin kami akan seperti vaksin flu, Anda dapat menyimpannya di lemari es anda," kata Presiden Sanofi Olivier Bogillot soal vaksin yang mereka kembangkan dilansir The Straits Times, Senin (16/11). Komentar Bogillot itu muncul beberapa hari setelah raksasa farmasi Amerika Pfizer dan mitranya BioNTech mengeklaim vaksin yang diuji, terbukti 90 persen efektif mencegah COVID-19 dalam uji coba tahap 3.
Uji coba tahap 3 yang dilakukan Pfizer dan BioNTech tersebut, melibatkan lebih dari 40 ribu orang. Pfizer memang berharap dapat memasok hingga 50 juta dosis vaksin secara global pada 2020 dan hingga 1,3 miliar dosis di tahun 2021.
Seperti yang telah diketahui, vaksin Pfizer harus disimpan di suhu -70 derajat celsius. Jika tidak, maka vaksin dikhawatirkan akan hancur, kondisi tersebut jauh di luar kemampuan kebanyakan lemari es di rumah sakit, terlebih disimpan menggunakan standar peralatan rumah tangga biasa.
Kondisi ini menjadi 'tantangan logistik' yang amat berat bagi Pfizer yang hendak memproduksi vaksin dalam skala besar. Keuntungan tak memerlukan teknologi lebih ini jadi kelebihan Sanofi terhadap vaksin yang dikembangkannya.
Sanofi memang baru selesai menjalani uji klinis tahap 2, jauh dari Pfizer yang sudah lolos uji klinis tahap 3. Perusahaan yang berbasis di Prancis itu dalam waktu dekat berencana merilis hasil uji klinis tahap 2 pada Desember 2020 ini.
Sambil menyusun hasil uji tahap 2, mereka kini mengembangkan 11 sampel vaksin untuk uji coba tahap ketiga. Meski begitu, Bogillot tetap optimistis, vaksin Sanofi segera tersedia dan didistribusikan pada Juni mendatang.
"Vaksin Pfizer 'sedikit lebih maju' dalam proses pengembangan. Satu laboratorium tak akan mampu menyediakan dosis untuk seluruh planet," ujar Bogillot. "Kami membutuhkan beberapa pemenang di akhir balapan ini. Produk Sanofi juga akan tersedia dengan harga yang terjangkau."
(wk/nidy)