Menkes Inggris Tuai Kontroversi Usai Ucapkan 'Insya Allah'
Dunia

Kalimat itu diucapkan Menkes Inggris, Matt Hancock, saat menjawab pertanyaan pemandu acara stasiun radio LBC soal apakah konser paduan suara Hari Natal bisa dilaksanakan tahun ini.

WowKeren - Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock, mengisyaratkan bahwa konser Hari Natal bisa digelar tahun ini meski pandemi virus corona (Covid-19) masih menyebar di negara Eropa barat tersebut. Namun, yang menjadi sorotan adalah Hancock menyatakan kemungkinan itu dengan menyebutkan frasa bahasa Arab "Insya Allah" yang kerap diucapkan umat Muslim saat mengucapkan rencana atau janji.

Frasa "Insya Allah" memiliki arti harfiah "jika Allah menghendaki" dan sering digunakan secara informal oleh masyarakat di negara Timur Tengah untuk mengekspresikan sesuatu yang masih mungkin tidak terjadi sesuai rencana.

Kalimat itu diucapkan Hancock saat menjawab pertanyaan pemandu acara stasiun radio LBC soal apakah konser paduan suara Hari Natal bisa dilaksanakan tahun ini. "Insya Allah," jawabnya, sebagaimana dilansir dari CNN.

Namun, pernyataan Hancock itu justru memicu kontroversi dan kebingungan. Tak sedikit pula masyarakat terutama para pengguna media sosial yang mengkritik ucapan Hancock tersebut. Bahkan, ada pula warga Muslim Inggris yang merasa tersinggung dengan tindakan Hancock yang menggunakan frasa "Insya Allah".


Ini bukanlah pertama kalinya Hancock dinilai menyinggung umat Muslim. Awal tahun ini, Hancock pernah mendapat kecaman dari pemimpin umat Muslim di Inggris setelah mengumumkan penguncian wilayah (lockdown) beberapa jam sebelum perayaan Idul Adha. Hingga saat ini, Inggris masih menerapkan lockdown nasional yang akan berakhir pada 2 Desember mendatang.

Di sisi lain, menjelang lockdown berakhir, banyak masyarakat Inggris yang bertanya dan berspekulasi mengenai kebijakan pembatasan seperti apa yang akan diberlakukan pemerintah selama periode libur Hari Natal dan tahun baru.

Sampai saat ini, pemerintahan Perdana Menteri Boris Johnson baru berencana melonggarkan sejumlah kebijakan pembatasan akibat virus corona agar warga bisa berkumpul bersama keluarga selama perayaan Natal.

Kantor PM Inggris di Downing Street mengatakan relaksasi pasca-lockdown akan berlaku secara bertahap di seluruh negeri. Namun, London memaparkan pembatasan lebih ketat akan tetap dilakukan di sejumlah wilayah. Sejauh ini, Inggris sendiri telah mencatat lebih dari 55 ribu kematian akibat Covid-19 dan 1,5 juta kasus virus corona.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts