Guru Besar FK UI Prof Tjandra Yoga Aditama membeberkan 3 kemungkinan penyebab seseorang tetap terinfeksi virus Corona meski sudah menerima vaksin. Berikut selengkapnya.
- Elvariza Opita
- Senin, 01 Februari 2021 - 16:34 WIB
WowKeren - Sejumlah pejabat Tanah Air secara mengejutkan dikonfirmasi positif COVID-19 meski sudah menerima vaksin. Fenomena ini pun belakangan kerap memicu tanya apa penyebabnya.
Pertanyaan ini pun akhirnya dijawab oleh mantan Direktur Regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) SEARO yang kerap menjadi penasihat badan tersebut, Profesor Tjandra Yoga Aditama. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) itu menduga ada 3 penyebab utama seseorang tetap terinfeksi virus Corona walau sudah divaksin.
Kemungkinan pertama adalah karena sifat vaksin yang harus disuntikkan dua kali. Dengan demikian, proteksi maksimal baru bisa terbentuk selama beberapa waktu setelah suntikan dosis kedua.
"Jadi, kemungkinan pertama seseorang ternyata COVID-19 positif beberapa hari sesudah disuntik vaksin," terang Prof Tjandra, Senin (1/2). "Adalah karena memang dia belum ada cukup antibodi sehingga masih mungkin tertular dan sakit."
Kemudian dugaan kedua adalah yang bersangkutan tertular COVID-19 beberapa hari sebelum penyuntikan vaksin dosis pertama. Misalnya saja seseorang tertular COVID-19 pada tanggal 1, lalu tanggal 4-nya disuntik, sehingga dimungkinkan ketika tes tanggal 7 dikonfirmasi positif COVID-19.
Hal ini memungkinkan karena infeksi terjadi sebelum vaksin diberikan. "Kita tahu akan ada masa inkubasi yang katakanlah tujuh hari, jadi walau virus masuk tanggal 1 maka baru sekitar tanggal 7 akan ada gejala dan tes dilakukan," terang Prof Tjandra, dilansir dari Republika.
Sedangkan kemungkinan alasan ketiga adalah karena tingkat efikasi vaksin yang diberikan. Diketahui saat ini vaksin yang sudah beredar adalah jenis Sinovac dengan tingkat efikasi 65,3 persen yang berarti kemungkinan tertular COVID-19 turun sebesar nilai efikasinya.
"Angka efikasi yang ada menunjukkan persentase rendahnya kemungkinan tertular dibandingkan mereka yang tidak divaksin. Jadi kalau efikasi di bawah 100 persen seperti yang ada sekarang ini maka pasti akan ada saja kemungkinan seseorang tetap dapat tertular dan jadi sakit walau sudah dapat vaksinasi secara lengkap," jelas mantan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan tersebut.
(wk/elva)