Inggris 'Oplos' Vaksin Pfizer-AstraZeneca, Akankah Uji Klinis Berhasil?
Dunia

Inggris tengah melakukan uji klinis untuk menilai respons imun yang dihasilkan dari kombinasi suntikan dua dosis vaksin COVID-19 yang berbeda yaitu Pfizer dan AstraZeneca. Akankah percobaan ini berhasil?

WowKeren - Inggris tengah menggelar uji klinis untuk menilai respons imun yang dihasilkan dari kombinasi suntikan dua dosis vaksin COVID-19 yang berbeda. Adapun vaksin yang digunakan adalah Pfizer dan AstraZeneca.

Uji klinis ini dilakukan agar dapat memberikan fleksibilitas pemberian vaksin di tengah pasokan yang terbatas. Para peneliti yang melakukan uji klinis ini mengatakan, data dari orang yang divaksin dua dosis vaksin COVID-19 yang berbeda itu akan membantu memahami apakah vaksinasi COVID-19 bisa dilakukan lebih fleksibel.

Data awal respons imun partisipan kemungkinan sudah bisa diperoleh sekitar Juni mendatang. ”Studi ini akan memberikan kita wawasan yang lebih luas soal bagaimana kita memanfaatkan vaksin untuk mengalahkan penyakit ini,” kata Jonathan Van Tam, Wakil Ketua Tenaga Medis Inggris dilansir Reuters, Kamis (4/2).

Menurut Van Tam, dengan adanya tantangan memvaksin jutaan warga di tengah kekurangan pasokan vaksin, data dari studi tersebut akan mendukung kampanye vaksinasi yang lebih ”fleksibel”.

Panduan vaksinasi Covid-19 di Inggris dan Amerika Serikat menyatakan bahwa vaksin COVID-19 tidak bisa dipertukarkan, tetapi bisa dicampur jika jenis yang sama tidak tersedia untuk pemberian dosis kedua atau jika tidak diketahui jenis vaksin yang sudah diberikan pada dosis pertama. Inggris sendiri telah menetapkan interval pemberian dosis pertama dan kedua lebih lama, yaitu selama 12 minggu dengan tujuan untuk memberikan dosis pertama pada lebih banyak penduduk.


Uji klinis ini akan menguji respons imun dari pemberian satu dosis vaksin COVID-19 Pfizer yang diikuti oleh dosis kedua, yaitu vaksin dari AstraZeneca sebagai penguat (booster) dengan interval empat dan 12 minggu. Uji klinis juga dilakukan dengan urutan pemberian sebaliknya, yakni dosis pertama vaksin AstraZeneca, diikuti dosis kedua vaksin Pfizer.

Kedua vaksin COVID-19, yaitu dari Pfizer-BioNTech yang berbasis mRNA dan dari AstraZeneca-Oxford yang berbasis vektor adenovirus, sudah diberikan kepada warga Inggris. Interval pemberian dosis pertama dan kedua masing-masing vaksin 12 minggu.

Diperkirakan bakal ada lebih banyak vaksin COVID-19 yang akan diikutsertakan dalam uji klinis kombinasi ini. Untuk rekruitmen uji klinis ini sendiri telah dimulai sejak Kamis (4/2) waktu setempat.

Diharapkan ada setidaknya 800 orang yang turut serta dalam studi selama 13 bulan tersebut. Lingkup uji klinis ini lebih kecil dari uji klinis yang dilakukan untuk menguji efikasi vaksin.

Uji klinis tersebut mencari partisipan berusia 50 tahun ke atas yang kemungkinan memiliki risiko terinfeksi lebih besar dibandingkan orang dengan usia lebih muda dan belum pernah divaksin COVID-19. Meski begitu, para peneliti menambahkan bahwa studi itu tidak akan mengkaji efikasi keseluruhan kombinasi vaksin yang diberikan, tetapi mengukur respons antibodi dan sel-T serta memantau kemungkinan efek sampingnya.

Menurut Matthew Snape, ahli vaksin dari Oxford sekaligus pemimpin studi ini, hasil awal dari studi ini akan menentukan distribusi vaksin pada semester kedua tahun ini. ”Kita akan mendapatkan hasilnya, sesuai harapan, pada Juni atau sekitar itu, yang akan menunjukkan penggunaan dosis penguat di masyarakat umum,” katanya.

(wk/nidy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait